Facebook Sebagai Tempat Pertaruhan Reputasi

Tombol suka facebook

Memikirkan bagaimana status update Facebook harusnya seperti ketika memilih hendak kenakan baju apa atau pilih potongan gaya rambut seperti apa: harus dipikir masak-masak. Facebook sekarang bukan lagi tempat privat antar kita dan teman-teman atau keluarga terdekat. Facebook adalah tempat publik, tempat kita diseleksi dan dipilih.

Facebook membatasi pertemanan hingga 5.000 “teman”. Asumsi yang mendasari adalah bahwa ketika Anda sudah tersambung dengan sebegitu banyak orang, sesungguhnya jejaring Anda tidak lagi berisi koneksi riil; akan ada banyak orang yang Anda tidak betul-betul kenal di sana. Robin Dunbar, seorang anthropologist, mengatakan bahwa manusia hanya punya kapabilitas kognitif untuk tersambung dengan kisaran 150 orang saja di satu waktu. Dengan kata lain, otak kita hanya bisa menampung informasi pribadi dari orang-orang dalam jumlah yang terbatas. Lantas mereka yang di atas 150? Penggemar? 🙂 Atau sekedar iseng dan asal saja meng-add kita?

Apapun, Facebook bukan tempat yang tepat untuk asal bicara.

Setiap kali kita memposting update di Facebook dan Twitter, kita sedang coba mempengaruhi bagaimana cara pandang orang-orang terhadap diri kita. Orang lain —terutama yg masih belum begitu kenal— akan menilai kita dari profil dan status update. Facebook akhirnya ibarat iklan bagi kepribadian, kualitas diri dan kompetensi kita.

Status Facebook  akan membantu orang lain dalam menentukan apakah kita ini layak dijadikan teman, atau kenalan. Status Facebook juga akan jadi pertimbangan besar bagi pemberi kerja untuk memanggil Anda di sesi wawancara. Buat apa mewawancara pelamar kerja yang isi status update-nya melulu bencana (omongan buruk atas orang lain atau diri sendiri dan apapun yang mbikin gerah).

Pampang foto sedang traveling? Itu bisa diartikan Anda orang yang terbuka dan berjiwa petualang. Banyaknya orang yang pergi bersama Anda? Itu menggambarkan tipikal kepribadian Anda yang extroversion. Entah melalui sikap menebak-nebak yang sok tau atau bagaimana, nyatanya orang akan coba menilai Anda dari apa yang tampak di Facebook. Bahkan menariknya, suatu studi sampai bisa menunjukkan betapa profil (dan status update) Facebook bisa menjadi prediktor atas kesuksesan akademik seseorang. Saya sampai ndak habis pikir karenanya 🙂

Untuk urusan kerja, dalam suatu studi yang dipublikasikan di Journal of Applied Social Psychology, terdapat simpulan yang menarik: terdapat korelasi yang tinggi antara persepsi hasil pencermatan profil Facebook seseorang dan kinerja mereka di tempat kerja. Studi semacam ini tentu perlu jadi pengingat yang serius buat kita, bahkan sebagai pribadi. Malahan, evaluasi di Facebook dikatakan bisa lebih akurat daripada tes kepribadian yang sering digunakan perusahaan. Sekitar 70% perekruit kerja (meski ini bukan data di Indonesia) membatalkan panggilan terhadap kandidat karyawan begitu mengetahui profil Facebook dari yang bersangkutan. Bagaimanapun, angka 91% perekruit menggunakan social media untuk men-screening kandidat adalah fakta yang menarik.

Silahkan Anda cermati infographics di bawah ini yang menunjukkan perihal apa saja yang membuat para perekruit menolak atau menerima kandidat untuk jadi masukan dalam menata status update kita, bahkan jika Anda tidak sedang mencari kerja sekalipun.

Bagaimana perekruit menyaring kandidat dg Social Media

Silahkan klik untuk ukuran penuh

Petikan pembelajaran buat yang ada kepentingan untuk cari kerja: perhatikan ujaran di Facebook dan social media. Anda tak ingin reputasi Anda terluka karenanya.

Lebih jauh tentang personal branding di Facebook, silahkan simak apa kata Dan Schawbel di sini.

Anda punya kiat untuk ber-Facebook secara produktif untuk karir dan kebaikan?

banner ad

3 Responses to “Facebook Sebagai Tempat Pertaruhan Reputasi”

  1. budiono says:

    nah itu kalo buat kepentingan personal, orang yang secara personal belum bisa mengelola akun pribadinya, jangan sampai diserahi untuk mengelola akun brand. bisa kacau!

    jadi ingat, twitter sebuat tv swasta ngetwit gini: “aduh manukku gatel!”

    hwkwkw..

  2. fery says:

    jejaring sosial itu seperti panggung pertunjukan, kita dituntut untuk ber-monolog-ria,… biar banyak teman

    butuh mental yang bagus bila ada “dipanggung itu”

Leave a Reply to budiono Cancel reply