Teman dan Sahabat di Sekeliling Kita

Teman dan Sahabat di Sekeliling Kita

Jika lantas ada yang berpikiran bahwa setiap kita ini adalah orang yang bebas dan mandiri, mari kita evaluasi lagi. Betul, adalah kita yang mengambil keputusan, adalah kita yang menentukan bagaimana kita akan merasa, adalah kita yang bertanggung jawab atas apa-apa yang dilakukan. Tapi tidakkah bagaimana kita ini ternyata juga merupakan bentukan dari siapa-siapa orang di sekitar kita.

Manusia adalah binatang sosial; jika memang mau dibilang binatang. Di ilmu sosiologi dikenal istilah yang disebut sebagai Social Proof. Ini adalah teori yang mengatakan bahwa ketika seseorang tidak merasa pasti dengan apa-apa yang mereka lakukan, mereka akan mencari bantuan atau pendapat dari sekitarnya untuk keputusan yang akan diambil. Tak peduli seberapa independen atau pentingnya kita pikir diri kita ini, semua orang terkena fenomena ini.

Ada lagi fenomena menarik dari keterikatan sosial ini.

  • Dalam banyak kasus di kost-kostan atau asrama khusus perempuan, para penghuninya cenderung memiliki pola atau siklus menstrual yang sama.
  • Orang-orang yang bekerja bersama di satu lingkungan cenderung memiliki pola bicara dan perilaku yang sama, secara tak sadar.
  • Orang baik yang berada di lingkungan buruk (misal suka memaki/berkata kotor) kian lama akan merasa terbiasa atau bersikap permisif dengannya hingga kemudian merasa wajar juga jika dia juga melakukannya (kecuali jika dia keburu minggat duluan)

Teman dan Sahabat di Sekeliling Kita

Kita lihat saja betapa teman-teman kita akan punya pengaruh besar pada bagaimana kita menilai sukses.

Ada tiga orang teman yang saling bertukar ide tentang apa itu sukses.
Orang pertama mengatakan, “Aku akan bilang diriku sukses ketika sudah bisa diundang ke kediaman presiden untuk makan malam dan lakukan pertemuan pribadi bersamanya.”
Orang kedua mengatakan,”Wah, bukan. Klo menurutku, sukses tu manakala kita bisa ketemuan dengan presiden di kantor pribadinya, asyik berbicara sampai-sampai sang presiden pun mengabaikan panggilan hotline yang ditujukan padanya.”
Sementara orang ketiga mengatakan,”Salah, yang namanya sukses tu manakala kita sedang asyik ngobrol dengan presiden di ruangnya, dan ketika telepon hotlinenya berdering, sang presiden mengangkatnya dan lalu berkata, ‘telepon buat sampean, Mas.'”

Apakah yang namanya sukses itu harus bertemu dengan presiden? Itu tidak penting. Yang jelas referensi dan pemikiran di sekitar kita sedikit banyak akan mempengaruhi dan mendorong kita untuk mengejar atau menghindar sesuatu. Beruntunglah jika semuanya mengarahkan kepada kebaikan.

Maka untuk membuat perbedaan di lima tahun mendatang, perlu kita perhatikan betul orang-orang yang kita bergaul dengannya secara akrab. Itu semua akan mempengaruhi sikap kita. Untuk pilihan yang bijak, orang-orang itu akan membantu kita memandang segala hal secara lebih baik.

Dari keluarga mana kita dilahirkan, kita tidak bisa memilih. Dengan siapa kita bekerja, kita terkadang juga punya keterbatasan untuk memilihnya. Tapi dengan siapa kita bergaul ini lah yang kita punya kuasa atasnya. Maka pilihlah baik-baik dengan siapa kita bergaul.

Banyak teman is OK, dan malah baik. Dengan siapapun kita boleh berteman, tapi pastikan kita punya sahabat-sahabat yang berkepribadian dan bermentalitas spesial.

Teman dan Sahabat di Sekeliling Kita

banner ad

One Response to “Teman dan Sahabat di Sekeliling Kita”

  1. budiono says:

    wahahaha… ngakak juga yang bagian 3 orang rebutan mendefinisikan sukses… tapi menurut saya itu sah-sah aja mas, kan sukses itu sifatnya personal.

    seorang fresh graduate bisa jadi merasa sangat sukses ketika dia sekali melamar kerja langsung diterima kerja di perusahaan top dengan gaji menggiurkan

    sementara orang yang lain belum merasa sukses kalo masih bekerja di perusahaan orang meski gajinya besar..

    dan memang benar, teman sangat berpengaruh terhadap siapa dan apa kita beberapa tahun mendatang 😉

    salam sukses!

Leave a Reply to budiono Cancel reply