Tahun Baru Menjelang, Bisakah Manusia Jadi Lebih Matang

jaman makin maju, apakah hasrat & jiwa juga kian maju?

jaman makin maju, apakah hasrat & jiwa juga kian maju?

Beragam masalah yang dihadapi manusia saat ini biasanya sumbernya berkutat pada seputar pemahaman yang sedemikian beragam tentang kebutuhan manusia. Menurut World Health Organization, satu di antara lima orang (di dunia) mengalami stress atau tekanan mental. Ini tentu adalah angka yang luar biasa. Bandingkan dengan ratusan tahun lalu di mana kehidupan manusia tampaknya masih jauh dari kompleksitas yang kita alami sekarang. Meskipun jumlah psikolog di dunia kian bertambah, tapi jumlah orang yang tertekan juga semakin jauh bertambah. Kita sekarang hidup di era di mana pembunuh nomer satu di dunia bukanlah kangker atau kelaparan, melainkan serangan jantung. PMI (preventative Medicine Research Institute) meyakini bahwa penyakit jantung sebenarnya benar-benar bisa dihindarkan dan bahkan bisa disembuhkan dalam rasio hingga 85% sampai 95% melalui perubahan pola makan dan gaya hidup. Tapi tentunya, adalah kekurangmampuan manusia dalam mengendalikan hasratnya lah yang sejak awal menyebabkan timbulnya penyakit kronis ini.

Dalam setiap tindakan pasti ada hasrat atau motif tak terucap yang melatarbelakangi. Meskipun teori evolusi mengatakan bahwa hasrat mendasar kita sebagai makhluk hidup adalah untuk bertahan hidup (survival) dan reproduksi, tapi kita tahu bahwa sebenarnya kita sudah melampaui keduanya itu.

Bahwa hasrat manusia secara mendasar mengakar pada keinginan untuk membuat batinnya merasa nyaman, saya kira kita sudah bisa sepakat dengan ini. Setiap kita ingin merasa bahagia, begitu gampangannya. Namun masalahnya, kita sekarang sudah hidup di masa yang sudah sedemikian mengacaukan parameter dan selera kebahagiaan. Apa yang awalnya menjadi fitroh menjadi terkacaukan berkat adanya hal-hal berikut ini: televisi, internet, makanan cepat saji, penyedap rasa, video game, pornografi, alat kontrasepsi, narkoba, budaya shopping, majalah dan tayangan fashion-busana dan juga iklan. Apa kesamaan semua itu?
Semua mendikte atau merayu kita untuk meraih kenyamanan hati dalam cara-cara yang tidak menyehatkan.

Tidaklah fair tampaknya menyejajarkan televisi dan internet dengan alat kontrasepsi dan bahkan narkoba, dan memang bukan maksudnya untuk menyejajarkan. Bahwa televisi dan internet pada hakikatnya netral, itu benar. Namun bahasan saat ini adalah betapa semua itu berpotensi mengganggu selera fitrah kita. Fitrah kita adalah membuat hati ini merasakan sensasi nyaman bahagia dalam cara-cara yang juga membuatnya nyaman bahagia.

Tantangannya, hasrat atau motif kita ini bisa jadi -bahkan seringkali- tidak terungkap secara gamblang. Kadang kita bertindak tanpa kemudian perlu melogika atau mencari pembenaran valid untuk melakukannya.

Jika dikatakan bahwa salah satu hasrat mendasar manusia adalah untuk bereproduksi, maka manusia bisa jadi ingin berhubungan intim tanpa bermaksud, merencanakan atau menginginkan punya keturunan. Secara sadar, ada maksud untuk sekedar mencari kesenangan dan merasakan cinta. Nah, hasrat untuk melakukan itu kan muncul secara alami. Kita tidak menemukan alasan dari luar kecuali adanya gejolak dan perasaan dari dalam. Sekarang masalahnya: sudahkah kita mematangkan hasrat semacam ini ke arah yang benar dengan cara yang juga benar.

childish di pengadilan

Jika childishnya lucu dan tidak fatal sih nggak papa

Hal yang sama juga bisa terjadi dengan kasus orang-orang yang begitu haus akan kekuasaan atas banyak orang, jabatan atau gelar yang mentereng ketika disebutkan, harta berlimpah yang rasanya begitu membanggakan ketika diketahui banyak orang, … daftarnya bisa terus berlanjut. Jika ditanya kepada yang bersangkutan, mereka mungkin tak banyak bisa mengatakan alasan-alasan yang paling mendasar. Namun kita tahu, itu semua sesungguhnya karena diri mereka -jiwa dan pikiran|emosi bawah sadar- menginginkannya berdasarkan selera-selera yang sudah menjadi liar.

Maka sekarang issunya adalah… Jika jaman kita sudah sedemikian maju, jika di setiap tahun baru kita dibuat terpana ketika melihat kaledioskop akhir tahun, tentang betapa umat manusia telah mencapai kemajuan…. Maka bisakah sekarang kita juga turut membuat diri jadi lebih maju dan ahli dalam mengendalikan hasrat. Jika kita sudah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam mengendalikan alat, perangkat dan juga alam, maka sudahkah umat manusia mencapai kemajuan yang setara dalam mengendalikan hasratnya.

Bicara tentang kebutuhan manusia, dengan beragam kemajuan di sekeliling kita, apakah kita masih seperti anak kecil yang melakukan dan memilih apa-apa berdasarkan apa yang mereka INGIN, dan bukannya atas dasar bahwa itu memang BAIK dan diBUTUHkan.

Coca Cola …. Pengen atau emang baik & butuh?
Njajan tiap hari …. Pengen atau emang baik & butuh?
Nonton televisi …. Pengen atau emang baik & butuh?
Langganan internet …. Pengen atau emang baik & butuh?
Blogging …. Pengen atau emang baik & butuh?

Hmmm…. Bahkan untuk urusan yang sudah kadung terbiasa dilakukan saya harus kembali mempertanyakan.

banner ad

2 Responses to “Tahun Baru Menjelang, Bisakah Manusia Jadi Lebih Matang”

  1. ulan says:

    ulan [mengucapkan] selamat menempuh tahun baru, minal aidin wal faidzin

  2. ascura says:

    Bisakah kita menjadi lebih matang? semoga

Leave a Reply to ulan Cancel reply