Shift Happen: Hidup di Zaman yg Mencengangkan

Shift Happen - surat pecat kerja
Hari sabtu 9 Februari 2008 kemarin saya mendapat kehormatan untuk memberikan seminar di hadapan lebih dari 200 orang dalam acara seminar Character Building. Seminar ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro yg juga menghadirkan Ibu Marissa Haque, yg serius bener2 keliatan masih berumur 30an. Dalam seminar itu saya mempresentasikan materi Menjadi Diri Sendiri, Globalisasi 3.0: Tantangan di Depan Mata + Shift Happen, dan Pengembangan Karakter di Zaman Global. Saya akan paparkan beberapa bagian dari presentasi saya di blog ini.

Kita seringkali dilatih untuk meyakini bahwa diri ini unik, bahwa setiap kita ini ibaratnya satu di antara seribu. Keyakinan semacam ini biasa ditanamkan untuk membentuk rasa percaya diri. Tapi klo kita mau serius menelaah pengibaratan ini, kita harus berani mengkoreksi batas2 percaya diri kita.

Jika Anda di Cina, lalu mengatakan bahwa Anda adalah satu di antara seribu, maka sesungguhnya masih terdapat 1,3 juta orang yang sama spt Anda. Penduduk Cina adalah 1,3 milyar, maka satu di antara seribu berarti… Got it? Jika Anda mengatakan perihal yg sama di India, maka sesungguhnya masih ada 1,1 juta orang yg sama spt Anda. Sehingga jika Anda di Indonesia ini mengatakan bahwa Anda adalah satu di antara seribu, …you do the math.

Apakah Anda sudah merasa unik mentang2 jago web programming, jago bahasa inggris, pinter basket dan memasak? Merasa unik karena Anda adalah seorang melankolis koleris yang pandai berbicara di depan umum? Well, sadly, masih banyak orang yg berpeluang sama spt Anda. Anda tidaklah benar2 unik. Kecuali jika Anda bukan berbicara tentang karakter & kompetensi, melainkan retina & sidik jari.

Masalahnya ini bukan cuma perkara hitung berhitung satu banding seribu. Saya gunakan contoh Cina dan India karena mereka adl negara dg jumlah populasi orang pintar yg mengerikan. Bayangkan saja, seperempat dari seluruh penduduk di Cina -dan kita ambil dari tingkat IQ tertinggi darinya- itu jumlahnya masih jauh lebih banyak ketimbang seluruh populasi Amerika Utara. Sama juga, sepertiga dari total populasi di India itu juga masih lebih banyak ketimbang seluruh populasi Amerika Utara.

Lantas?

Mereka berdua punya lebih banyak anak-anak berprestasi jauh melebihi Amerika Kanada dan apalagi kita. Cina dalam waktu dekat ini akan menjadi negara dengan jumlah penduduk mampu berbahasa inggris terbesar di dunia. Bila kita mengambil seluruh jenis pekerjaan yang ada di Amerika dan memboyongnya ke Cina, maka sesungguhnya Cina masih akan mengalami surplus tenaga kerja.

Bicara lebih jauh lagi tentang pekerjaan, mantan sekretaris pendidikan Amerika Serikat Richard Riley mengatakan bahwa sepuluh pekerjaan yg paling diminati pada 2010 nanti itu belum pernah ada di 2004. Kita saat ini sesungguhnya sedang mempersiapkan para pelajar kita untuk pekerjaan2 yang belum ada, yang mana menggunakan teknologi2 yang sekarang ini belum diciptakan, untuk memecahkan masalah2 yang kita bahkan belum tau bahwa itu masalah.

We are currently preparing students for jobs that don’t yet exist…using technologies that haven’t been invented…in order to solve problems we don’t even know are problems yet.

Kita sekarang hidup di jaman eksponensial. Ada lebih dari 2,7 milyar pencarian yang dilakukan melalui google setiap bulannya. Sebelum google ada, Anda dulu nanya ke sapa coba? Kebayang ngga? Jumlah informasi yang beredar saat ini amat sangat berlimpah. Bayangkan saja, diestimasikan bahwa jumlah informasi yang terkandung di edisi selama satu minggu New York Times itu masih lebih banyak ketimbang jumlah informasi yang ditemui oleh seseorang yang hidup di abad 18, mulai dari lahir hingga meninggalnya.

Jumlah technical information yang beredar saat ini tu berlipat dua setiap dua tahun. Sehingga untuk para mahasiswa yang mengambil pendidikan teknik empat tahun, ini artinya separuh dari apa yang mereka pelajari pada tahun pertama akan menjadi usang pada tahun ketiga perkuliahan mereka. Pada 2010, diperkirakan berlipat duanya informasi ini terjadi setiap 72 jam sekali.

Itu semua adalah fakta yang mengerikan. Lantas kita bisa apa?

Kita bisa saja memilih untuk menyalahkan pemerintah. Jika pada 2002 Nintendo Games telah berani menginvestasikan sebesar 140 juta dollar untuk riset dan pengembangan, maka berapa juta dollar kah yang telah pemerintah kita habiskan untuk riset dan inovasi di bidang pendidikan?

Kita bisa juga berdalih bahwa kita ini emang nasibnya apes, dasar pemerintahnya lamban segala macem. Global Competitive Index kita saja masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sementara Growth Competitive Index kita ada di peringkat 50 dunia. To make things worse, dalam Economic Outlook 2008, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Martin Panggabean berkata, “Boro-boro menambah lapangan kerja, enggak berkurang saja sudah untung. Kami perkirakan lapangan kerja menciut 1,6%, atau akan ada penciutan jumlah lapangan kerja hingga lebih satu juta.”

Kita tentu bisa memilih yang lain.

Kita bisa memilih untuk berubah dan segera mengambil tindakan. Menurut saya, salah satu bentuk awalannya adalah dengan melakukan bedah diri; menemukan titik kuat dan bakat, serta menggunakannya sebagai instrumen untuk mengembangkan kompetensi dan pengalaman pembelajaran. Hal ini akan saya sampaikan pada posting berikutnya.

marissa haque ameilia guntar seminar character building

Catt: Data dalam posting ini saya dapatkan sepenuhnya dari Karl Fisch.

banner ad

12 Responses to “Shift Happen: Hidup di Zaman yg Mencengangkan”

  1. Fuji says:

    Assalamu’alaikum,salam kenal pa guntar,kbetulan kmrn saya juga ikt seminar CB(character building) yg dibawakan oleh bapak,mohon maaf dsini saya gak ngasih comment tp malah ingin bertanya tentang materi yg bapak bawakan kmrn,saya pengen bertanya tentang 4 sifat manusia yakni koleris,pregmatis,melankolis,daqn sanguinis.sejak kapan teori ini muncul?siapa yang menemukan teori pengklasifikasian 4 sifat manusia itu?trus samapai kapan teori ini bertahan karena kita tahu bahwa peradaban manusia semakain lama semakin berkembang?mohon maaf pa jika pertanyaan ini saya tanyakan bukan pada tempatnya,sebelumnya saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan bapak coz udh mau baca comment ini,wassalam

  2. aRuL says:

    Wah sayang saya ada kepentingan tuh hari, sehingga tidak bisa ikut jadi peserta.butuh kerja keras untuk hidup di jaman itu yah mas πŸ™‚

  3. Hedi says:

    Berarti intinya etos dan kesadaran diri, pak?

    Hedi’s last blog post..Ultah Presiden

  4. Mahardika Fahrudin Rois says:

    Asslm…….Pak Guntar, saya peserta Interpersonal Communnication Seminar(ICS)2008 yang baru kemarin diselenggarakan, terus terang pak, saya kecewa thdp materi yang diberikan pak edy dan pak guntar sendiri……. masalahnya saya rasa untuk mendapatkan hati cewek itu saya rasa bukan tema yang pas untuk sebuah seminar, coz saya rasa seminar itu untuk mencetak manusia2 yang kompeten yang bisa mempertanggungjawabkan (mempresentasikan) kompetensinya, bukan semata untuk dapat cewek…… (hehehe, masalahnya saya sudah punya cewek, jadi saya gak seberapa tertarik dgn tema itu….) maaf pak ya, kalau kata2 saya menyinggung, tolong dibalas…..

  5. Akhmad Guntar says:

    Fuji:
    Pertanyaan sampean akan saya bahas dalam posting sendiri. Sudah disiapkan kok sejak jauh hari. Terima kasih atas pertanyaannya πŸ™‚

    Hedi:
    Intinya…. kesadaran diri dan berdisiplin utk terus tingkatkan akhlak & kompetensi πŸ™‚

    <strong>Mahardika:</strong>
    Terima kasih, Mas Mahardika πŸ™‚ . Panitia dari BEM ITS tentunya memiliki pertimbangan yg panjang shg mereka memilih Romantic Communication sbg materi seminar. Asumsi saya, justru itu adl materi yg dimaksudkan utk menarik peserta utk mendaftar, krn belum mmg pernah diseminarkan dan juga banyak yg bermasalah dgnya. Anda bisa lihat bhw kemarin jumlah peserta perempuannya amat banyak. Selain krn mereka mmg lebih peka thd urusan romance, jg krn mereka juga lah yg biasanya jadi korban sakit hati akibat kompetensi interpersonal antargender yg sama2 masih perlu diasah. Kami berdua yg diundang utk berbagi ilmu ttgnya sudah berusaha semaksimal kami, mohon maaf jika sampean masih merasa kecewa (krn merasa tidak butuh).

    Jika sampean masih ingat materi saya, di sana tidak ditekankan jurus2 romantis, melainkan bagaimana beda pria wanita dlm perihal komunikasi serta tips utk membangun kompetensi interpersonal yg lebih baik dg pemahaman atas perbedaan tsb. Ini sebenernya pantas jadi seminar tersendiri, Mas πŸ™‚ Konteks penggunaan materi saya kemarin bukan sekedar utk membina romansa dg pasangan, tp dg wanita pd umumnya. Jika Anda sedang dan pasti akan bekerja sama dg wanita, maka pasti Anda membutuhkannya πŸ™‚

    Semoga sukses selalu menyertai sampean.

  6. diCha says:

    baPak gunTar, coMment saYa muNgkin berbeDa deNgan teMan2 seBelumnya. keBetuLan saYa peserta CB dan ICS dimana baPak guNtar diminta sebagai pembicara. juJur saYa saNgaT terkeSan deNgan gaYa daN caRa baPak meNarik perhatiaN audienCe.
    suKses untuk kaRir dan keLuarganya, seMoga kemajuan perut baPak tiDak mendahului kaRir bapaK hehehehe…..kaLimat iTu seLalu saya iNgat karena dikedua seMinar itu, baPak seLalu menyebutkan kaLimat tersebut (n_n) 

  7. sayang sekali aku gak bisa ikut Seminar CB kmarin krn ada keperluan di jurusan sendiri… salam kenal buat pak guntar, terima kasih dulu juga menyempatkan mampir di blogQ, komentari mantra Harry Potter…btw, Pak, Reparo ternyata memang u/ memperbaiki sesuatu yg retak, jadi gagang kacamata juga bisa di’Reparo’, heeeheeeee………

    hasan junaidi’s last blog post..Jembatan itu Memisahkan Kita…

  8. rile says:

    bweheheheheheehhhh……. cess cess cesss. Bapak Guntar, terusan / penjabaran paragraf terakhirnya lho … yang saya tunggu, selak ngabarrrr…..   ?! πŸ˜€

  9. adit says:

    menjadi manusia yg kompetitif, ah saya pribadi selalu merasa ada yg salah dengan kata2 inikompetitif senada dengan keyword, cepat, pintar , unggul…, namun hasilnya akankah hal ini membuat peradaban menjadi lebih baik, lebih sejahtera ? kekayaan memang melimpah, informasi memang melimpah, teknologi terus maju secara eksponensial.. semuanya melimpah……… namun hasilnya thdpd peradaban dan masyarakat itu sendiri, apakah bisa dikatakan benar2 menuju kemajuan alih2 kehancuran  ?paradox eh ?______________________maap pak, kalo OOT, makelum otak gi ngaco he he 

  10. Akhmad Guntar says:

    diCha:
    Terima kasih, Dicha πŸ˜› Dan memang urusan kemajuan perut jadi issue yg peka buat saya :mrgreen:
    Semoga kualitas pengetahuan peserta yg lain juga kian bertambah secara signifikan dari apa2 yg sudah saya sampaikan kemarin. Dan semoga sampean kian giat utk berbagi ilmu utk yg lain; agar ilmunya jadi lebih hidup πŸ˜›

    Hasan Junaidi
    Salam kenal juga, mas Hasan. Semoga saya bisa segera membeli kacamata baru :mrgreen:

    Rile:
    Sabar, Om. Sabar, Silahkan ajukan pertanyaan/case study spesifik agar postingnya bisa relevan πŸ˜‰

    Adit:
    Betul, Mas Adit. Kapasitas kompetitif seseorang tidak lantas menjadikan hidupnya jadi lebih mulia dan membawa kemanfaatan bagi orang lain. Kompetensi memang harus diarahkan sebisa mungkin utk memuliakan peradaban manusia.

  11. abeeayang says:

    hadoh, melihat kenyataan dan gambaran diatas aku jadi minder… :(kemana saja aku inih….

  12. Luqman says:

    Assalamu’alaikumWah…lama nggak ketemu tambah terkenal saja Mas Guntar (berGUNa bagi TAnah aiR) ini. Dulu pas jadi Kahima TC pernah nyebut dirinya Guntarion, sekarang apa ya ?  Moga makin sukses, makin maju dan makin2 lainnya yang serba positif deh.

Trackbacks/Pingbacks

  1. trustcosurabaya.com » Shift Happen: Hidup di Zaman yg Mencengangkan - [...] bisa membaca post ini secara lengkap pada link berikut ini: Shift Happen: Hidup di Zaman yg Mencengangkan…

Leave a Reply