Mewaspadai Kencanduan Gadget

Studi yang dilakukan oleh Ofkom di UK menunjukkan bahwa kecanduan smartphone sudah masuk ke tingkatan epidemis. Sebanyak 37% orang dewasa dan 60% remaja mengaku ‘sangat kecanduan’ dengan gadget mereka. Separuh menggunakan smartphone sembari ngobrol dengan orang lain, seperempat menggunakan ketika sedang makan, dan seperlima menggunakan ketika sedang di kamar mandi atau toilet.

Studi lain menunjukkan bahwa smartphone sudah mulai merenggut kehidupan seseorang. Ada yang disebut sebagai “checking habit” —kebiasaan mengakses satu aplikasi ponsel dalam durasi 30 detik atau kurang, yang itu berkali-kali. Anda bisa bayangkan, itu bisa saja facebook, twitter, foursquare, atau semacamnya. Kebiasaan semacam itu lah yang membuat munculnya kebiasaan tak sehat yang bisa berdampak pada kecelakaan atau hubungan yang memburuk dengan orang lain.

Susan Davis di WebMD mengatakan bahwa teknologi komputer bisa menjadi candu karena sifatnya yang psikoaktif: bisa mengubah mood, dan mentrigger perasaan nyaman. Email dan (reply) status facebook sendiri saja bisa memberikan perasaan mirip ketika diberi hadiah karena kita tidak selalu tahu kejutan apa yang bisa kita dapat darinya. Akibatnya, cek lagi, lagi dan lagi; kecanduan.

Apa yang bisa dilakukan?

  • Tidak perlu beli BMW atau Mercy nya handphone. Artinya tak perlu beli handphone yang paling kaya fitur dan paling kompleks apalagi sekedar untuk gaya-gayaan. Banyak orang membeli barang mahal dengan uang hutangan hanya untuk terlihat gaya di hadapan banyak orang yang tidak mereka kenal.
  • Jangan gila donlod aplikasi. Terutama di Android, banyak sekali aplikasi gratis yang nyatanya malah bakal menghabiskan waktu Anda. Sesungguhnya, rata-rata orang hanya menggunakan 5-10 aplikasi saja setiap harinya. Benar, kan? Oleh karenanya, perhatikan betul aplikasi apa saja yang Anda letakkan di layar utama Anda.
  • Beranikan diri untuk di waktu tertentu  tidak segera mengangkat telepon, semisal saja ketika Anda sedang ngobrol dengan seseorang; kecuali bila Anda memang sedang menantikan panggilan yang sifatnya urgen. Ingat —urgen. Dan tidak seterusnya Anda berada dalam posisi yang urgen, bukan? Bolak balik menengok ponsel ketika Anda sedang berbicara dengan seseorang tampaknya akan melukai hubungan Anda, bukan?
  • Jika memang Anda sedang di tahap flow atau konsentrasi penuh atas suatu tugas, tidak perlu segera membalas SMS segera setelah SMS itu datang. Beri waktu beberapa menit kemudian. Anda lah yang harusnya paling punya kuasa atas waktu Anda.
  • Berdisiplinlah dengan aturan pribadi untuk tidak menerima telepon atau segera membalas SMS di situasi tertentu (misal ketika sedang berkendara atau diajak ngobrol oleh orang tua) atau di jam-jam tertentu.

Anda punya saran lain? Silahkan sampaikan di komentar.

banner ad

5 Responses to “Mewaspadai Kencanduan Gadget”

  1. budiono says:

    kecanduan gadget memang bisa gawat, sudah banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang berujung kematian akibat kebiasaan ngecek henpun sambil nyetir. yang tragis malah ada yang kecelakaan tapi gak langsung mati, akibatnya cacat seumur hidup.

    supaya gak kecanduan? sebaiknya memiliki gadget yang memiliki fungsi dasar saja kalo memang belum bisa mengatur waktu dan memberi prioritas task yang harus dikerjakan pada satu waktu yang sama 🙂

    • Guntar says:

      Betul, Pak. Cacat dan kecelakaan dari berkendara dg berhandphone kuwi memang gaswat. Semoga Allah melindungi kita sekeluarga dan semua dari perihal semacam demikian.

  2. Plugie says:

    saran :
    gunakan gadget untuk berinovasi.
    saya sudah coba buat aplikasi android kecil2an bisa dibaca & di download gratis tentunya di http://android.plugie.com 🙂

  3. fadhila says:

    Wah, gadget memang sudah mbudaya Pak dalam kehidupan, terutama remaja. Orang tua banyak yang mengeluhkan anak-anak yang semakin kurang perhatian kepada orang tua (lebih emosional, komunikasi bermasalah, dll) dan fokusnya jauh berkurang (untuk belajar dan hal-hal yang berhubungan dengan sosialisasi).

Leave a Reply