Mengatur Bahasa Tubuh untuk Membangun Kesan Pertama yang Baik di Wawancara Kerja

Kesan pertama Anda dibangun sejak Anda masuk ke area perusahaan, yakni sejak Anda keluar dari tempat parkir bahkan. Maka begitu Anda masuk ke dalam gedung, pastikan Anda sudah tampak keren sejak awal.

Mengatur Bahasa Tubuh untuk Membangun Kesan Pertama yang Baik di Wawancara Kerja

Pesan non verbal dalam komunikasi ditampakkan dalam banyak hal, salah satunya adalah cara berpakaian. Jika Anda pria, maka perhatikanlah panduan berpakaian yang baik.


Jika Anda menggunakan jaket, maka jangan ikut bawa masuk; tinggalkan saja di kendaraan Anda.

Jangan celingukan. Jika Anda memang sedang mencari meja registrasi atau tempat duduk, jangan tolehkan kepala Anda ke kanan dan ke kiri secara cepat bak kera kena tulup. Jika Anda pernah melihat orang yang tak tahu jalan atau tersesat dan kemudian tolah toleh tak karuan, Anda pasti paham betapa orang itu tampak bingung dan merasakan ketidakpastian yang besar. Dan yang semacam itu tidaklah boleh ditampakkan di tempat wawancara kerja. Jikapun Anda mencari-cari tempat duduk atau teman, yang Anda gerakkan cukup bola mata dengan tolehan kepala yang pelan.

Semenjak Anda berada di ruang tunggu, aturlah postur tubuh Anda dengan baik dan jangan menampakkan sikap-sikap tubuh yang tidak keren atau miskin wibawa. Ini artinya jangan berjongkok seperti gaya orang mau berak di pinggiran tembok . Meskipun yang lain seperti itu, Anda jangan menirunya. Paksa diri Anda untuk tetap berdiri jika memang tak ada tempat duduk yang tersisa. Meskipun banyak peserta wawancara yang duduk secara berhimpitan sampai-sampai hanya ujung pantat belakang saja yang menyentuh kursi, tidak berarti Anda perlu melakukan hal yang sama.

Jika Anda duduk, entah di ruang tunggu ataupun di dalam ruang wawancara, duduklah dengan punggung tegak, pinggang menempel di sandaran, bahu aga ditarik ke belakang, dengan dagu agak diangkat. Sikap tubuh semacam ini tidak hanya akan membuat Anda tampak keren, tapi juga membuat Anda bisa bernafas dengan lega sehingga gugup pun bisa terkendali.

Ketika Anda masih menunggu, maka jangan bengong; sebaiknya lakukan hal-hal keren seperti membaca majalah bisnis, buku pengembangan diri, apalagi yang berbahasa inggris. Jangan gunakan waktu ini untuk ngegame di handphone atau mengisi TTS. Itu sama sekali tidak keren. Anda juga bisa gunakan waktu menunggu untuk ngobrol dengan orang di sebelah kanan kiri Anda.

Tatkala bertemu dengan pewawancara, jabatlah tangannya dengan erat. Jabat tangan sering digunakan untuk membaca tingkat energi seseorang. Jabatan tangan yang lemas akan menimbulkan kesan yang buruk. Jadilah yang terakhir melepaskan jabatan tangan itu. Itu artinya Anda baru lepaskan ketika jabatan tangannya mulai mengendor. Tak perlu gunakan tangan kiri Anda untuk memegang lengan atau bahu sang pewawancara. Itu namanya SKSD; Sok Kenal Sok Dekat, yang bisa berbahaya manakala sang pewawancara Anda adalah melankolis atau phlegmatis.

Tak mengapa Anda sedikit mencondongkan tubuh ke depan untuk menunjukkan ketertarikan.
Jaga gerakan tangan seminimal mungkin….mm…atau lebih tepatnya, jaga sebisa mungkin agar Anda tidak melakukan ekspresi gerakan tangan ke wajah, misal ke arah mulut, hidung, mata, tengkuk atau telinga. Semua itu dapat mengirimkan pesan bahwa Anda ragu dengan yang Anda sampaikan, atau bahkan Anda sedang berbohong atau mengarang-ngarang jawaban.

Sebaiknya Anda tidak menyilangkan kaki di depan, entah dengan menumpangkan atau menyilangkan kaki di depan. Termasuk juga, sebaiknya Anda tidak menyilangkan tangan di depan dada. Itu semua menunjukkan sikap defensif.

Mengatur Bahasa Tubuh untuk Membangun Kesan Pertama yang Baik di Wawancara Kerja

Lakukan tatapan mata, lakukan secara wajar , tak usah dipaksakan. Di Indonesia, menundukkan atau mengalihkan pandangan masih dianggap sebagai suatu hal yang diperlukan untuk menunjukkan kesopanan atau ketundukan. Ingat bahwa tidak semua pewawancara Anda adalah spesialis pewawancara. Bisa jadi dia adalah bos atau siappun dari jajaran atas perusahaan, yang mana mereka punya kebutuhan untuk dihormati. Memaksakan diri mempertahankan tatapan mata bisa jadi malah dianggap sikap kurang sopan. Dan jika Anda mengalihkan pandangan, jangan ke arah samping atau atas, melainkan ke bawah.
Dengan tatapan mata, apa mengkomunikasikan bahwa Anda adalah pribadi yang percaya diri, dan bahwa Anda mendengarkan dengan seksama apa sang pewawancara sampaikan. Jika Anda adalah orang auditori, sebaiknya tatapan mata ini Anda latihkan secara sadar.

Saat berbicara, perhatikan kecepatan bicara dan volume suara Anda; jaga keduanya agar tetap berada dalam rentang yang nyaman untuk didengar.

Jangan lupa untuk tersenyum, meskipun ini tentu saja harus disesuaikan dengan apa yang sedang dibicarakan. Saat pertanyaan diajukan, tunjukkan muka serius yang tak menyeramkan. Pokoknya gaya mendengarkan yang khusuk deh. Jika di saat ini Anda senyam senyum tanpa alasan jangan-jangan malah diceletuk, “Anda pikir pertanyaan saya lucu apa?” (lebay :-p). Senyumlah sejak akan mulai menjawab pertanyaan. Tapi jika Anda memang excited atau menyukai pertanyaan yang diajukan, maka tersenyum pun tak mengapa.

banner ad

Leave a Reply