Memahami Keunikan Budaya Negara Lain

Pada pembukaan acara pembekalan soft-skill awal mahasiswa baru, rektor Universitas Muhammadiyah Jember mengatakan bahwa banyak mahasiswa kita yang canggung berkiprah dan bersaing di negara lain karena tak paham budaya setempat. Mengetahui budaya setempat memang amat penting ketika ada maksud untuk membangun kerjasama bisnis semisal. Bagaimanapun, penting untuk dingat bahwa bagaimanapun masyarakat juga berubah, terutama paling terlihat di generasi mudanya.

Saya sendiri belum pernah ke luar negeri selain ke Saudi. Maka informasi berikut ini menjadi menarik bagi saya:

Di Cina, Taiwan dan banyak negara timur, kecuali Indonesia saya kira, bersendawa merupakan isyarat pujian bagi sang tukang masak dan juga sah dianggap sebagai pertanda bahwa Anda begitu menikmati makanan yang baru disantap.

Di banyak bagian di timur tengah, menunjuk dg kaki -apalagi kepada orang lain- dianggap sebagai wujud ketidaksopanan.

Di banyak negara di Asia (setahu saya sih di Jepang terutama), kartu nama tu dianggap sebagai perpanjangan dari orangnya secara langsung. Artinya, sikap tidak hormat yang ditujukan pada kartu nama -dilipat, dicorat coret, digigit gigit, dsb- dianggap sbg pelecehan pada si pemilik kartu nama. Klo saya mah ndak segitunya. Klo orang jepang setahu saya memang menuntut agar kartu nama yang mereka berikan dilihat dulu baik-baik sebelum dimasukkan ke dompet.

Di Cina, ketika disuguhkan makan, jangan tandaskan seluruh makanan yang ada di piring -itu akan membuat sang tuan rumah jadi keliatan jelek bila dia tidak melakukan refill. Jadi sebaiknya tinggalkan sedikit makanan di sana. Ndak sama ya kebiasaan orang jawa.

Di Jepang dan Korea, tip (uang bonus) tu dianggap sebagai penghinaan, karena terkesan seperti mengemis. Tapi itu sih dulu. Sekarang gara2 orang barat, tradisi ngasih tip udah jadi lumrah.

Tanda “Oke” (jempol dan telunjuk bersentuhan membentuk lingkaran) tidak diartikan sama di jerman dan amerika selatan. Itu malah dianggap penghinaan, sama seperti memberi sinyal jari tengah di amerika. Sementara itu di Turki, tanda yang sama dianggap sbg isyarat tuduhan bahwa seseorang itu homoseksual. Klo di Indonesia, itu malah jadi asosiasi nomer partai tertentu.

Tanda Victory (jari telunjuk dan tengah membentuk V) bila ditunjukkan dg bagian telapak menghadap ke dalam (punggung telapak menghadap luar) itu ternyata malah dianggap sebagai hinaan di Inggris, sama juga dg isyarat jari tengah di Amerika.

Mengunyah permen karet yang bisa jadi bagus untuk higienitas gigi ternyata malah dianggap vulgar di Luxemburg, Switzerland, dan Perancis. Di Singapura, hampir semua jenis permen karet malah dicap ilegal oleh pemerintah sejak 1992 ketika penduduknya sudah muak dg sampah permen karet di mana-mana.

bayangkan, yg begini ini lho bisa dibilang cantik di budaya tertentu.

bayangkan, yg begini ini lho bisa dibilang cantik di budaya tertentu.

Bahkan budaya dan bahasa juga tak bisa terlepas. Beberapa kata sudah cukup bisa digunakan untuk menggambarkan budaya dari bangsa bersangkutan. Misal saja di Cina kata yang sama¬† digunakan untuk “makanan” dan juga “nasi”, mengartikan bahwa “makanan” dan “nasi” tu sebenarnya sama. Klo di Jawa, seseorang dikatakan belum makan klo dia belum menyantap nasi.

Yah, setidaknya begitulah informasi yang saya temukan dari beberapa sumber. Apakah benar? Ya karena saya belum pernah jalan-jalan ke luar negeri, barangkali Anda lebih tahu :-)

banner ad

One Response to “Memahami Keunikan Budaya Negara Lain”

  1. parvian says:

    sepertinya kunci sukses di negara lain memang harus “menaklukan” budaya negara tersebut dulu ya pak? kalo denger2 di forum beasiswa gitu… banyak yang pulang karena nggak betah dan nggak bisa beradaptasi dengan budaya negara setempat :p

Leave a Reply