Ketika Para Jagoan Hengkang dari Perusahaan

Sumber Daya Manusia adalah sebuah bentuk investasi yang amat berharga. Entah sebagai pimpinan, manajer HRD atau sesama rekan kerja, kita ingin mereka yang punya kompetensi handal untuk bisa tetap tinggal. Gara-gara tingkat turnover atau keluar masuknya karyawan potensial yang tinggi, perusahaan bisa-bisa malah jadi jalan di tempat alih-alih terus berkembang.

Tingginya tingkat keluar masuknya karyawan ini bisa mempengaruhi perusahaan dalam beberapa hal. Yang pertama, ketika karyawan yang telah lama bekerja keluar, maka kepergian mereka tentunya bersama dengan pengetahuan atau aset intelektual perusahaan. Perihal lain, pegawai senior biasanya menjadi role model bagi tim dan juga mentor bagi para pegawai baru untuk bisa berkembang lebih cepat. Sehingga jelas, kehilangan aset dari SDM senior bisa mengakibatkan kerugian waktu dan uang bagi perusahaan.

Yang kedua, tingginya tingkat turnover karyawan membuat perusahaan habiskan upaya dan sumberdaya pada rekruitmen ulang. Temen-teman di HRD tentunya yang paling tahu betapa proses rekruitmen hingga training karyawan baru itu cukup melelahkan. Entah mereka yang harus diganti itu dari kalangan eksekutif atas, manajer pertengahan ataupun tingkatan staf data-entry, upaya yang dilakukan untuk rekruitmen, wawancara kerja, dan pelatihan karyawan baru bisa menghabiskan dana dalam kisaran 30 hingga 150 persen dari gaji untuk setiap posisi yang bersangkutan.

Anggapan bahwa biaya untuk mengganti karyawan hanyalah berkisar pada biaya pengiklanan di koran tentu saja salah. Adanya biaya langsung maupun tak langsung juga perlu dipertimbangkan. Misal saja, selama sebuah posisi belum terisi kembali, pasti ada karyawan lain yang kena limpahan pekerjaan dari karyawan yang keluar. Tanpa ada pengaturan yang baik terhadap hal ini, bisa muncul masalah berupa penurunan produktivitas, rusaknya motivasi, hingga keluarnya karyawan handal yang lain (seperti yang riil saya lihat sendiri).

Turnover Keluar Masuk Karyawan

Kami menawarkan bayaran yg kompetitif, benefit yg lumayan, dan paket pemutusan hubungan kerja yg menarik

Beberapa alasan mengapa karyawan mulai mencari pekerjaan baru adalah:

  1. Mencari kompensasi dan benefit yang lebih baik
  2. Ketidakpuasan terhadap potensi pengembangan karier
  3. Merasa tidak dihargai, tidak dibutuhkan, atau tidak signifikan
  4. Beban kerjanya membuat kehidupan (pribadi terutama) menjadi tidak seimbang
  5. Tidak merasa performanya mendapat penghargaan yang sepadan, tak ada beda kompensasi antara performa biasa dan luar biasa
  6. Merasa tidak dianggap penting, karena dia tidak pernah dilibatkan untuk mengambil keputusan
  7. Tidak betah dengan lingkungan pertemanan di tempat kerja
  8. Ada tambahan?

Sehingga ini bukan hanya perkara uang dan benefit. Banyak juga pegawai keluar karena mereka tidak merasa kontribusi mereka pada perusahaan dihargai.

Yang jelas, Anda tentu sepakat bahwa mencari dan mengambil orang yang tepat adalah sebuah awalan, bukan akhiran dari proses rekruitmen Anda. Bahkan sebelum kontrak kerja atau kepegawaian ditandatangani, perusahaan harus langsung masuk pada tahap selanjutnya dari rekruitmen (bolehkah kita sebut sebagai re-rekruitmen?). Ini dilakukan untuk membuat si calon karyawan baru yang potensial dan susah didapat ini bisa membuat awalan yang amat bagus, dengan performa yang segera meningkat, dan teryakinkan untuk bisa terus berada di perusahaan untuk selamanya (setidaknya begitu lah harapannya).

Kita akan bahas tentang ini di bagian Menghadapi Turnover: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Handal

banner ad

Leave a Reply