Kemampuan Mencipta Pengetahuan

Jika bisnis teknologi tampak begitu menggiurkan, kita perlu lihat fakta lapangan terkait kompetensi apa yang sesungguhnya dibutuhkan untuk menuju ke sana. Wadhwa, profesor di Berkeley and Duke University melakukan survey kepada 652 CEO dan kepala product engineer di 502 perusahaan teknologi di Amerika dan menemukan bahwa hanya 37% saja dari mereka yang bergelar insinyur atau gelar lain terkait informatika. Sisanya adalah orang-orang dari beragam jurusan termasuk sosial yang memiliki kemampuan eksperimentasi dan discovery terhadap pengetahuan.

Larry Page dan Segei Brin dari Google tidak mengagungkan pendidikan sains komputer mereka sebagai faktor pendorong sukses, melainkan pendidikan berbasis Montessori yang mereka jalani di usia belia. Metode belajar Montessori adalah model belajar yang menekankan pembelajaran terarah mandiri (self-directed learning), pencarian, penggalian, dan discovery.

Para entrepreneur sukses tidak tiba-tiba datang dengan gagasan cemerlang untuk bisnis mereka. Alih-alih, ide brilian mereka temukan di sepanjang perjalanan melalui DISCOVERY. Ini adalah kemampuan yang bisa dipelajari dan dilatihkan, tapi mungkin belum tentu dari sekolah.

Tukul tidak tiba-tiba mengeluarkan ide hebat hingga jadilah program Empat Mata sebagaimana yang kita lihat. Dia sudah memulai program “sertifikasi kompetensi”nya sejak usia muda dengan tampil melucu di panggung tujuh-belas agustusan. Bukan cuma puluhan atau ratusan ribu jam terbang yang jadi modal Tukul, melainkan upaya evaluasi terhadap pengalaman manggungnya dan juga discovery untuk hal orisinil berdasarkan bakat terbesar dirinya. Tukul secara konsisten mencari-cari dan mengembangkan bahan lawakan melalui eksperimentasi — mengangkat kasus, mengajukan pertanyaan, membuat asumsi dan hipotesis, melakukan pemecahan masalah dan pengujian, melakukan perbaikan.

Eksperimentasi, kemampuan mendiscover ide; apakah sekolah kita cukup mengajarkan itu?

Kondisinya, sistem pendidikan kita masih menekankan pada nyekoki, ndulang atau menyodorkan makanan (pengetahuan), entah dalam bentuk rumus matematika-fisika, pengetahuan sejarah dsb. Siswa lalu diuji seberapa jauh mereka bisa MENGINGAT sodoran pengetahuan tersebut; mereka tidak diajari atau diuji dalam kemampuan MENCIPTAKAN pengetahuan.

Kemampuan mendayagunakan pengetahuan yang sudah dipunya memang berguna untuk banyak kondisi, namun tidak cukup berlaku untuk penciptaan suatu hal yang baru, kreatif, atau orisinil.
Siswa kita tidak sebaiknya dipatok untuk jawaban yang saklek. Pendidikan kita perlu memberi kesempatan yang besar untuk melakukan eksperimen secara orisinil dengan peluang dan margin yang bebas untuk mengalami gagal dan melakukan kesalahan.

Buat yang masih sekolah, belum terlambat untuk melakukan eksperimentasi mandiri terhadap pengetahuan. Buat yang kuliah S1 dan apalagi S2, ingat bahwa misi pengerjaan tugas akhir dan thesis adalah letak pembelajaran discovery yang sebenarnya; maka alokasikan resource secara layak di sana; jangan dadakan, jangan serampangan.

 

 

banner ad

Leave a Reply