Kekuatan atau Kelemahan: Mana yang Dikembangkan?

Photobucket

Salah satu pertanyaan klasik terkait manajemen produktivitas adalah: Apa sebaiknya Anda berupaya meningkatkan kekuatan-diri, ataukah memperbaiki kelemahan-diri? Baik, setiap darinya miliki argumennya sendiri-sendiri, tapi jawaban yang terbaik adalah berfokus pada kekuatan-diri.

Jika memang jawaban ini sudah terasa jelas bagi Anda, maka ya sekarang silahkan tinggal cari saja hal terbaik apa yang Anda bisa lakukan, dan berupayalah jadi yang terbaik di sana. Bila Anda masih merasa butuh penjelasan, maka perkenankanlah saya beri jabaran.

Tapi jikapun Anda tak punya banyak waktu untuk membaca, maka paling tidak cerna dan simpan saja yang berikut ini:

“Anda punya kebutuhan untuk berkembang -untuk jadi terus menerus lebih baik- HaNya di wilayah-wilayah yang jadi kekuatan-diri Anda. Itu adalah wilayah yang mana Anda akan paling bisa secara pesat berkembang dan juga yang paling membahagiakan untuk dijalani. Kekuatan-diri Anda adalah faktor pengali (multiplier) Anda. Itu adalah perihal yang membuat Anda jadi tampak besar sebagaimana yang semestinya Anda menjadi.”

Untuk Jadi Unggul, Anda Butuh Punya Competitive Advantage | Kekuatan yang Menonjol Kuat
Seberapapun kita ingin memperbaiki kelemahan-diri dan menghindari gagal salah, apa yang benar-benar membuat kita ini menang bagaimanapun adalah faktor kekuatan-diri. Jadi orang yang serba-bisa tampaknya memang bagus dan berguna bagi sekitar kita, tapi dalam situasi yang sedemikian kompetitif, yang akan menjadi pemenang adalah siapapun yang bisa mencapai goal tertentu dalam kualitas yang istimewa. Keunggulan Anda akan ditentukan dari kemampuan melakukan hal spesifik dengan amat sangat bagus, alih-alih sekedar mampu melakukan banyak hal dalam kualitas rata-rata.

Sudah pasti: hasil dan performa luar biasa akan lebih dilirik ketimbang yang biasa-biasa saja. Pelanggan Anda pasti akan memilih apa-apa yang menakjubkan diri mereka ketimbang yang sekedar bisa dipake. Apakah Anda familiar dengan perkataan “Our people are our greatest asset.”? Sebenarnya yang benar adalah “Our people’s strengths are our greatest asset.”

Di era ekonomi kreatif saat ini, penghormatan diberikan kepada mereka yang mampu menunjukkan performa pemecahan masalah kreatif yang handal. Tapi toh nyatanya tak ada satu pun dari kita yang mampu jadi kreatif, inovatif dan cakap dalam pemecahan masalah untuk keseluruhan -setiap dari – aspek pekerjaan kita. Malahan, kita punya beberapa ranah yg mana kita sama sekali tak kreatif di sana, di mana gagasan pertama yang keluar dari kepala kita pertama kali bukan hanya jadi gagasan yang terbaik yang kita punya, tapi juga jadi yang satu-satunya, saking nggak kreatifnya kita di bidang itu. Tapi bersamaan dengan itu, yakini bahwa kita juga punya ranah yang kita bisa sangat dan bahkan paling kreatif di sana, paling inovatif dan juga paling cerdas dalam pecahkan masalah. Dan di situlah tempat kita harus beri fokus pengembangan diri.

Kebahagiaan Ketika Mendayagunakan Kekuatan-Diri
Keinginan mencapai target tertentu sebenarnya adalah alasan eksternal. Di balik itu, ada yang disebut motivasi internal, yakni kebahagiaan atau kepuasan batin ketika menjalani dan mendayagunakan Kekuatan-Diri Anda. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi yang mempelajari kebahagiaan dan produktivitas menyebutkan, kepuasan batin yang penuh hanya bisa dirasakan manakala Anda benar-benar menggunakan bakat fisik dan mental yang telah diberikan kepada diri Anda. Csikszentmihalyi (benar2 males banget mengucapkan nama orang ini :mrgreen: ) menyebut state ini sebagai “flow.”

Flow?

Pernahkah Anda bekerja pada sesuatu yang benar-benar mendayagunakan salah satu kekuatan Anda dan Anda sedemikian asyiknya sampai sampai terhanyut oleh waktu? Ingatkah Anda perasaan puas yang Anda rasakan ketika itu telah rampung? Nah, pengalaman itu lah yang disebut sebagai flow.

Kok gagasan pematangan pada kekuatan-diri ini masih belum populer?
Iya, sayangnya, masih banyak orang belum menerapkan pemahaman ini dalam kehidupan mereka. Marcus Buckingham dalam bukunya Go Put Your Strength to Work, menjelaskan bahwa dari survei yang dilakukan oleh Gallup terhadap karyawan di perusahaan2 besar di seluruh dunia, ditemukan ternyata hanya 20 % saja orang-orang yang secara teratur menerapkan kekuatan mereka di tempat kerja.

Buckingham meyakini bahwa salah satu penyebab utamanya adalah karena masyarakat kita terlalu menaruh upaya berlebihan dalam menyikapi kelemahan alih-aih meningkatkan kekuatan. Coba deh, jika seorang anak mendapat nilai 4 untuk matematika dan 9 untuk bahasa indonesia, sang orang tua bakal mbahas panjang di mata pelajaran apa? Dan jika si anak diikutkan les tambahan, untuk mata pelajaran yang mana juga kah ia?

Sehingga memang ada alasan yang terkait dengan ego dan rasa malu. Kita masih berada dalam ketakutan akan kritik dan celaan, serta menganggap bahwa kelemahan kita merupakan ranah yang benar-benar tak boleh dipandang sebagai cela. Gawatnya, mentalitas semacam ini malah menjadikan diri ini kurang punya apresiasi atau penghargaan yang pantas pada kekuatan diri. Akhirnya banyak dari kita yang menjadi serba bisa tapi bukan pakar di bidang manapun.

Padahal seperti yang sempat saya tulis di wall facebook saya, dan mbikin sedikit ‘rame’ di sana:

Jika sampai usia 35 tahun Anda sampai gagal membentuk suatu kepakaran yang memiliki nilai ekonomi, berarti Anda adalah seorang journeyman; kompeten, tapi susah berkembang. – Tom Peters

banner ad

2 Responses to “Kekuatan atau Kelemahan: Mana yang Dikembangkan?”

  1. Haikal says:

    Tapi bener loh mas.. misal pada saat evaluasi kinerja, tema umumnya adalah “memperbaiki” diri.. bukan “memperkuat” diri..
    Mungkin gini ya.. kepentingan organisasi adalah: anda, karyawan wajib mampu menyelesaikan semua tugas terkait bidang anda, apapun ranahnya.. ndak mau tau anda bagus atau tidak bagus di bidang itu, pokoknya pekerjaan anda hasilnya harus bagus, karena anda dinilai dari hasil kerja anda
    kepentingan pribadi adalah: saya harus mampu mencari, mengasah dan menjual kemampuan2 terbaik saya.. karena aset saya ya itu..

    Haikals last blog post..feed him back

  2. Guntar says:

    Itulah penyakitnya dunia kerja saat ini. Pada akhirnya, organisasi bersangkutan ndak akan bisa mencapai potensi maksimalnya. Pun juga karyawannya, batinnya jadi kurang terpuaskan di sana.

Leave a Reply to Guntar Cancel reply