Jejaring Sosial Tetap Tak Bisa Gantikan Tatap Muka

Wabah jejaring sosial

Terlepas makin maraknya jejaring sosial, interaksi tatap muka tetap tak bisa digantikan. Saat telepon dulu mulai marak, anggapannya adalah kebutuhan tatap muka jadi berkurang. Begitu juga saat munculnya fax dan email, diprediksikan ruangan kantor yang luas dan mahal β€”untuk menerima tamu dan rapatβ€” tidak lagi sangat dibutuhkan.

Ternyata salah.

Edward Glaeser, ekonom di Harvard menulis di bukunya β€œThe Triumph of the City” bahwa perjalanan bisnis justru makin meningkat sejak email makin merebak. Kunjungan konferensi bisnis menaik justru sejak merebaknya video-conferencing.

Isaac Kohane, peneliti di Harvard Medical School, setelah mengamati 35.000 paper peer-review dan memetakan lokasi dari setiap penelitinya, dia menemukan bahwa peneliti yang letak/lokasi fisiknya berdekatan terbukti mampu menghasilkan karya yang lebih berkualitas. Malahan, penelitian terbaik ternyata dihasilkan oleh para peneliti yang secara rutin bertatap muka dengan jarak sekitar 30 feet (9,2 meter) satu sama lain.

Tidak lantas kita perlu hentikan aktivitas bersosialisasi di internet. Namun kita perlu pertimbangkan lagi tujuan sesungguhnya dari jejaring online kita. Jika kita merasa bahwa Facebook bisa menggantikan sillaturahim dan hubungan offline kita, salah.

Dalam tatap muka, masih begitu banyak makna yang hanya bisa diperoleh melalui kontak temu wajah, dalam bentuk bahasa tubuh dan beragam informasi implisit yang tidak tampak ketika kita ber-chatting atau ber-email. Jika Anda butuh lakukan diskusi, sesungguhnya akan ada antusiasme lebih besar, nuansa kreatif, pesona dan warna kepribadian yang hanya bisa didapat dalam temu tatap muka. Atau begitu PeDe kah Anda dengan kemampuan ber-emoticon? Bagaimana dengan menghadapi orang-orang yang lebih tua daripada Anda?

Sepertinya Facebook, Linked In, Google+ dan lainnya akan tetap baik dan berguna, bila kita gunakan semua itu betul-betul sebagai suplemen atas pertemuan tatap muka kita dengan orang yang betul-betul penting/layak jadi relasi/teman kita. Hubungan kita yang akrab dan penting, harusnya tetap terjadi di dunia nyata, wajah ketemu wajah.

Begitu, bukan?

banner ad

8 Responses to “Jejaring Sosial Tetap Tak Bisa Gantikan Tatap Muka”

  1. Alfiyan says:

    Nice summary Pak Guntar… Jejaring maya dan aplikasi lain yang mendekatkan secara virtual hanyalah gerbang awal untuk pertemuan fisik. Saya kira juga tak ada yang mau hanya melulu berkomunikasi melalui media maya ini. Inilah yang kemudian memunculkan term kopi darat, yang notabene juga muncul karena adanya pertemuan maya dan ingin berlanjut ke pertemuan fisik.

    Just a thought, hehe…

    • Guntar says:

      Nggih, Alfiyan. Kopi darat memang penting. Pertemuan maya jadi pengawal dan selingan, utamanya tetap di darat sepertinya ya πŸ™‚

  2. Bukik says:

    Apakah dalam riset itu diselidiki juga diantara periset juga berinteraksi di jejaring sosial? Kalau baca dari linknya sepertinya tidak. Apa artinya? Kesimpulannya tidak bisa melakukan perbandingan antara tatap muka dengan online
    IMHO sih….

    • Guntar says:

      Komen sampean kok masuk ke spam ya :-p
      Di riset tidak dibandingkan antara peneliti yg ber-online dan tatap muka. Riset itu sekedar menunjukkan bahwa untuk melahirkan karya berkualitas, peneliti masih bertendensi besar pada pertemuan tatap muka.

      Aku ikut ResearchGate, social media untuk peneliti, sampean pasti udah tahu. Di sana susah juga cari kolaborasi, banyak yg bertanya, sedikit sekali yg mau menjawab :-p

  3. kurotsuki says:

    Jejaring sosial mustinya lebih ke arah berbagi informasi. Terutama seperti sharing2 link seperti yang mas guntar lakuin. Kayaknya lebih bermanfaat seperti itu daripada sekedar chat/update status. biasanya kalo lagi buka pesbuk, trus ngeliat update status, banyak yang langsung saya skip πŸ˜€

    • Guntar says:

      He he, tapi klo isi teman facebook-nya saudara dan teman2 dekat sendiri, sepertinya ya ndak papa model curhat. Artinya adalah pilihan untuk njadikan facebook sbg tempat update status pribadi atau berbagi informasi πŸ™‚

      Cuma klo teman2nya adl orang yg ndak begitu dikenal itu yg lantas perlu penyikapan berbeda :-p

Leave a Reply to Guntar Cancel reply