Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan

Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan
Seperti yang saya tulis pada post kemarin, ada alasan2 yang membuat seorang karyawan dalam kondisi pantas untuk mengundurkan diri atau resign. Namun penting kita perhatikan bahwa keputusan untuk resign tidaklah boleh didasarkan atas suatu kasus yg mana kita belum disolusikan dg baik. Berikut adalah email konsultasi yg ditujukan kepada saya oleh salah seorang pembaca blog localhost/guntarion. Sebagian isi email saya potong untuk lebih meringkas isi. Jika Anda tidak ada waktu untuk membaca pertanyaan, inti dari kasus yg disampaikan adalah:

Dalam kasus overload kerja, apakah bijak untuk mengambil keputusan resign?


PERTANYAAN:

Saya pernah bekerja di perusahaan XXXXX selama 7 tahun sebagai staf adminitrasi produksi dan pembelian menggunakan ijazah SMEA. Saya ditrima bekerja sebagai staf keuangan dan akuntansi di radio. Tapi cuma bertahan 3 bulan (cuman masa training aja).

Saya diterima kerja di perusahaan trading ekspor kerajinan. Gaji yg diterima disini memang lebih tinggi dibanding di tempat kerja yang lama, tapi saya merasa tidak enjoy dengan pekerjaan saya. Saya baru bekerja selama 6 bulan. Saya merasa stress dengan pekerjaan yang saya hadapi. Volume pekerjaan begitu menumpuk, semua diminta cepat oleh kantor pusat dan tanggung jawab yang berat. Saya bekerja di perusahaan cabang sebagai staf administrasi keuangan dan umum (itu yang tertulis dalam job disk saya..he3). Tapi dalam prakteknya, srabutan, sampai2 pekerjaan saya sendiri malah terbengkalai. Yang saya kerjakan : Buat daftar penerimaan barang, ..dst dst. Bener-bener ga bisa fokus.

Sebenarnya, saya akan mengutamakan pekerjaan utama saya dulu, baru bantu bagian lain. Tapi tetap tidk bisa. Lah gimana, barang tersebut keburu dikirim, jadi semua staf membantu proses QC, packing dll. Di tempat kerja ini, saya sudah bener-bener tidak semangat. Bawaannya pngin resihgn melulu. Saya merasa reward yang diberikan sudah tidak sesuai dengan tanggung jawab yang berat…he3
Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan

  1. Bijaksana tidak melakukan resign pada saat belum mendapat pekerjaan baru? Mengingat susahnya mencari pekerjaan. Terus terang saya msih takut menyandang gelar pengangguran. Saya dulu pernah nganggur 1 bulan, rasanya sudah bosan banget.
  2. Apakah saya harus bertahan di perusahaan trading ekpor tersebut? Dalam artian, baru resign setelah ada kepastian ditrima di tempat yang baru.
  3. Jika saya terus bertahan di perusahaan tersebut, terus terang saya merasa kesulitan mengatur waktu untuk mengikuti tes panggilan di perusahaan2 yang saya lamar. Jadi sering bolos, jadi tidak enak sendiri…he3
  4. Akhir bulan Agustus 2009, manajer saya akan cuti 3 bulan karena malahirkan. Segala tugasnya dilimpahkan saya. Termasuk ..dst. Apabila saya diterima bekerja di perusahaan lain, maka saya akan mengajukan resign. Apabila saya resign pada saat manajer saya masih cuti, maka kantor benar-benar kacau dan tidak jalan. Karena staf yang dikantor saya hanya tinggal 2 orang disainer dan 1 staf lapangan. Mereka benar-benar tidak bisa menggantikan tugas saya dan manajer saya. Apabila saya tetap resign, etis tidak Pak? Resign dari kantor pada saat kantor membutuhkan saya. Terus terang saya benar-benar tidak enak dengan Bapak Direktur.

Apa yang harus saya perbuat? Atas saran dan petunjuk dari Bapak, saya sampaikan terima kasih.

Wassalam

Ed-Dw

TANGGAPAN SAYA

Mbak Ed-Gw yang smoga dirahmati Allah,

Terkait kasus mbak Ed-Gw, mari kita lihat kondisinya dalam persepsi yg empowering

bahwa mbak Ed-Gw punya jobdesc yang kemana2, itu sebenarnya menguntungkan lho:

Pertama: Membuat mbak Ed-Gw punya potensi besar menjadi karyawan yang punya kontribusi signifikan, sedemikian rupa sehingga susah sekali untuk dapet pengganti yg sepadan. Hal ini tentu akan memberi mbak Ed-Gw semacam bargaining power yg kuat. Bargaining power ini pada gilirannya akan membuat mbak Ed-Gw jadi lebih mudah untuk meminta sesuatu kepada atasan.

Kedua: Membuat kompetensi, wawasan dan pengalaman mbak Ed-Gw menjadi berkembang, ini pada gilirannya akan membuat mbak Ed-Gw akan jadi lebih mudah untuk mendapatkan peluang kerja di tempat lain. Mereka yg mudah dapet kerjaan adalah mereka yg bersedia berkontribusi di luar batasan jobdesc resmi mereka. Memang, batas ‘kelewatan’ itu ada. Tapi secara umum, apa yg membuat seorang karyawan bernilai adalah komitmen kontribusinya kepada perusahaan.

Dari kasus yg mbak Ed-Gw alami, saya amat menyarankan agar mbak Ed-Gw ndak keburu ambil keputusan utk berhenti. Apa yg sepertinya belum mbak Ed-Gw lakukan adalah ngobrol dg supervisor atau atasan, dan ini sangat penting utk dilakukan. Kasus overload yg mbak Ed-Gw alami amat bisa jadi juga akan dialami di tempat kerja lain, dan terus akan jadi kondisi yg berulang sampai kemudian mbak Ed-Gw belajar dari pengalaman ini.

Coba deh ngobrol dg atasan. Dalam banyak kasus, karyawan perempuan tu gimana2 lebih punya peluang besar untuk curhat secara efektif ke bos ketimbang karyawan laki-laki.

Apa yg diobrolin?

  1. Jika kiranya bisa bertahan dg workload semacam itu,maka mbak Ed-Gw bisa minta naik gaji atau benefit apapun.
  2. JIka kiranya enggan bertahan dg workload dan tak keberatan dg gaji yg diterima skr, maka mbak Ed-Gw bisa minta ke atasan tambahan karyawan administrasi baru dg mbak Ed-Gw bertindak sbg supervisor atau pengarahnya. Hal ini membawa dua keuntungan: pertama, beban mbka Ed-Gw teringankan, stres berkurang. dua, mbak Ed-Gw jadi belajar kompetensi baru.

Jika ingin resign sebelum dapat kerjaan, saya pikir itu bukanlah pilihan yg baik. Jikapun risikonya adl jadi sering bolos, ya itu memang konsekuensinya. Maka skr tinggal gimana membuat agar tidak perlu sering bolos, yakni dg membangun kompetensi yg kukuh. Dan ini tentunya dilakukan dg mengoptimalkan ikhtiar dr kerjaan yg skr.

Saya pikir tidaklah menguntungkan manakala mbak Ed-Gw ikut tes wawancara, “Kenapa kok ingin pindah kerja?” JIka jawabannya adalah “Karena work overload” maka akan ada anggapan “Orang ini kayaknya susah diajak kerja keras deh” atau “Masalah gitu lak yo umum,sih. (dan memang iya) Masak dia nggak bisa mengkomunikasikan dg atasanya.”

Ada banyak hal yg perlu dipikirkan untuk berhenti kerja. Kelebihan beban kerja adalah salah satu sebabnya, tapi kasus ini bisa kok diatasi dg pengkomunikasian yg baik ke atasan.

Silahkan dikomunikasikan dulu ya dg atasannya 🙂

banner ad

5 Responses to “Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan”

  1. Trevie says:

    Saya seorang fresh graduate. baru nganggur 1 bulan, saya sudah diterima bekerja, dan sebelumnya saya sempat interview di banyak perusahaan sampai akhirnya saya harus memilih satu diantara 2 perusahaan yang “meminang” saya.

    Perusahaan A dekat rumah, gaji yg ditawarkan lebih tinggi dr perusahaan B, hanya saja tidak ada sistem pegawai tetap. Sedangkan perusahaan B jauh sekali dari rumah, gaji yang ditawarkan sekarang tidak begitu besar, namun ada kesempatan utk jadi pegawai tetap dan dapat beasiswa master degree.

    Akhirnya saya memutuskan memilih perusahaan B. Namun setelah saya jalani, ternyata semua diluar dugaan saya. saya pikir saya akan menangani hal2 yg sesuai dengan apa yg saya pelajari saat kuliah dan PKL. Selain karena saya merasa tidak mengetahui dengan pasti job desc saya (krn saya multi tasking) selain itu top management nya tidak komit dengan QSHE dalam artian mereka hanya sertifikasi utk keperluan proyek dan tender, tidak benar2 100% diimplementasikan, sehingga hal tsb membuat saya jengah mengingat QSHE adalah bidang saya semasa kuliah.

    Kira2 apa sebaiknya saya harus resign dari perusahaan ini secepatnya, karena saya merasa tidak produktif.

    Thx a lot

  2. Meily says:

    Saya adalah seorang IT professional, at least itulah pekerjaan saya selama hampir 2 tahun ini, sampai akhirnya di perusahaan baru ini, karena sentimen pribadi seseorang saya dipindah paksa dari bagian IT ke bagian GA, tugasnya translate. Status saya masih kontrak namun di kontrak tertulis jelas scope kerjaan saya di IT. Saya dapat mengundurkan diri tanpa penalty.
    Saya tidak pernah punya keinginan beralih bidang karena saya sudah punya profesi yang saya yakini akan membawa kemajuan bagi diri saya, karena ada tingkatan karir yang saya tuju.
    Dilain pihak saya bingung karena mereka seperti tidak memberi kesempatan untuk mencari kerja dahulu dan jika mau berhenti harus sekarang. Mohon solusinya. Terima kasih.

  3. Yth Sdr Trevie
    Seringkali Tuhan membuat kita hadir di suatu lingkungan yg sebegitu tidak idealnya demi memaksa kita untuk belajar dan berkembang serta mempersiapkan kita untuk kesempatan lebih besar. Sungguh, yakinlah bahwa kondisi Anda itu ada untuk suatu maksud yg baik bagi Anda. Ketidakidealan itu sebenarnya malah peluang bagi Anda untuk bisa muncul ke permukaan. Karenanya, sebaiknya Anda membiasakan diri untuk bisa produktif dalam ketidaknyamanan. Bahwa sebenarnya kondisi tidak ideal itulah peluang bagi Anda untuk bisa dibayar mahal; bukankah kualitas seseorang dilihat dari kompetensinya menghadapi masalah dalam ketidaknyamanan?

  4. Mb. Meily, dalam mencari kerja, ada tiga motif yg mendasari pilihan seseorang: (1) karena itu menyenangkan hatinya, sesuai dg panggilan jiwa (2) karena kerjaan itu memberi dia kesempatan belajar dan berkembang, dan (3) karena kerjaan itu berikan bayaran lumayan

    Anda mungkin bisa menebak; orang sukses biasanya memilih kerja berdasarkan kriteria 1 terlebih dahulu untuk diiriskan ke yang ke-2. Yg ke-3 pasti akan mengikuti.

  5. dwi says:

    sudah semniggu lebih sya jadi pengangguran di karenakan sya mengajukan resign karena memang di kantor sudah tdk bisa di kompromikan lagi.dari awal sya menerima job tsb hnya sbg batu loncatan agar sya bisa di pindah ke bag back office,dan saat itu hrd sya memberikan sedikit harapan.maka y sya menerima job tsb,setelah sya masuk d kantor tsb.dari awal sya masuk kerja disana jujur sya tidak begitu nyaman,dg orang2 kantor di sana,kebanyakan mereka ngomongnya kasar yg kdang buat sya sakit hati,..sudah lama sya ingin resign dari sana.tp sya mencoba sabar,..hingga akhirnya tepat saat kontrak saya mau habis,..saya mulai sering ijin ke kantor,(untuk alasan intervew,tes,dll),.inginya saya itu di pindah bag ke backoffice(ke pusat),..karena memang kondisi disana sudah tidak memungkinkan lagi untuk saya bekerja,rekan kerja yang tidak bisa di ajak kersama,lingkungan,dn masih bnyak lagi,kahirnya tepat kontrak saya abis sya memutuskan untuk resign alias tidak ingin perpanjang kontrak,hrd sya kaget sempat di tahan juga,..tp mw gimana lagi,sya maunya di pindah bag,sedangkan hrd sya inginya saya karywan tetap dulu,..akhirnya sya ttp memutuskan tuk resign,..
    yang sya tanyakan
    1. sya sudah melamar ke sana kemari,..lwt jobfair,email,tp smpai saat ini belum juga ada panggilan dtg tuk saya.sempet interview di beberapa tempat tp menghilang begitu saja tidk ada kelanjutannya.

    mohon balasanya,..

    thx

Leave a Reply to Akhmad Guntar Cancel reply