Berperilaku Bahagia untuk Merasa Bahagia

Sikap bahagia untuk rasa bahagia

Anak-anak tersenyum rata-rata 400 kali dalam sehari; orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari.

Manusia biasanya akan menunjukkan respon yang sangat bisa tertebak manakala mereka merasakan atau memikirkan sesuatu. Ketika sedih, dia akan menangis; Ketika sedang bahagia, dia tersenyum; Ketika mereka bersepakat, dia mengangguk. Bukan suatu hal yang baru buat kita. Namun berdasarkan ranah penelitian yang disebut proprioceptive psychology, proses yang sama juga terjadi untuk perihal sebaliknya. Riset menunjukkan ketika seseorang berperilaku secara tertentu, dia akan jadi merasakan atau memikirkan perihal tertentu.

Salah satu aktivitas eksperimen yang saya suka adalah tentang partisipan yang diminta berkonsentrasi pada beragam produk yang digerakkan di layar monitor untuk kemudian menyatakan ketertarikan mereka pada produk-produk tersebut. Sebagian produk digerakkan escara vertikal (yang membuat kepala partisipan melakukan gerakan mengangguk) sementara sebagian produk yang lain digerakkan secara horizontal (di mana kepala partisipan jadi menggeleng). Hasilnya: partisipan lebih memilih prouk yang digerakkan secara vertikal tanpa menyadari bagaimana gerakan kepala “ya” dan “tidak” mereka mempengaruhi keputusan mereka itu.

Prinsip yang sama berlaku untuk kebahagiaan. Seseorang akan tersenyum ketika dia bahagia, namun juga akan merasa lebih bahagia karena mereka sedang tersenyum. Efek semacam ini bahkan terjadi meskipun yang bersangkutan tidak menyadari bahwa dirinya sedang tersenyum (karena dikondisikan oleh sang peneliti).

Riset lain menunjukkan bahwa perasaan tambah bahagia karena menyengajakan diri tersenyum ini tidak luntur begitu bibirnya berhenti tersenyum. Rasa positif itu terus terbawa dalam banyak aspek perilaku yang bersangkutan, termasuk lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain dan lebih cenderung bisa mengingat even-even yang membahagiakan.

Kesimpulannya jelas: kalau Anda ingin lebih bahagia, berperilakulah seperti orang yang bahagia. Tersenyumlah lebih banyak, dan penelitian sarankan Anda ntuk jaga ekspresi tersenyum selama 15 hingga 30 detik. Buatlah pegingat di ponsel atau komputer Anda; pengingat bagi Anda untuk tersenyum 🙂 Tidak cukup sekedar tersenyum: duduklah dengan tegak. Postur tubuh Anda juga sangat penting untuk membangun suasana emosi yang baik. Penelitian membuktikan bahwa dengan duduk dalam posisi tegak, seseorang tidak hanya akan lebih bahagia, namun juga lebih bisa menyelesaikan dengan lebih baik permasalahan yang melibatkan aktivitas berpikir. Bukan sekedar cara duduk yang diperbaiki, bahkan cara jalan pun juga. Berjalanlah dengan lebih santai, ayunkan tangan Anda dengan leluasa. Lebih ekspresiflah dalam berjabat tangan, dalam mengangguk ketika mendengarkan, berbicara dengan nada yang lebih variatif dan sedikit lebih cepat. Itu semua akan lebih mendekatkan ke rasa bahagia.

Referensi penelitian:

  • J. D. Laid (2007). Feelings: The Perceptions of Self. New York: Oxford University Press.
  • J. Forster (2004). ‘How Body Feedback Influences Consumer’s Evaluation of Products’. Journal of Consumer Psychology, 14, pages 415-25.
  • F. Strack, L. L. Martin and S. Stepper (1988).’Inhibitting and Facilitating Conditions of the Human Smile: A Nonobstrusive Test of the Facial Feedback Hypothesis’.  Journal of Personality and Social Psychology, 54, pages 768-77.
banner ad

Leave a Reply