Beda antara Amatir dan Pakar yang Sesungguhnya

Tidakkan Anda ingin menjadi seorang pakar? Yang secara intuitif bisa mengetahui jawaban yang benar? Tulisan ini akan mengulas tentang sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan amatir dan apa juga yang dimaksud dengan pakar – serta langkah-langkah di antara keduanya. Ini akan berguna bagi kita untuk mengukur tingkat keahlian kita pada bidang tertentu sehingga darinya diharapkan bisa jadi lebih bijak dalam menginvestasikan energi dan sumber daya. Semakin kita nyadar dg tingkat kepakaran kita, semakin kita tahu mana mana saja urusan yg perlu kita delegasikan, dan mana mana yang perlu kita lakukan sendiri dan khususnya yg bisa menghasilkan kemanfaatan dan uang.

Apa yang kita bahas di sini adalah Dreyfus model of skill acquisition, yang berbicara tentang lima tahapan yang harus dilalui seseorang dalam perjalanan dari amatir menjadi pakar. Model ini menjelaskan mengapa dan bagaimana kemampuan, sikap, kapabilitas dan perspektif kita berubah seiring dengan tingkat keahlian.

Pertama, kita akan bahas dulu tentang pakar: Seperti apa sih pakar itu sebenarnya?

Saya yang dari informatika amat mengenal bagaimana model orang yang disebut pakar IT. Mereka benar-benar tampak seperti tukang sulap (atau lebih tepatnya penyihir, kalau saja kata ini tidak punya asosiasi yg cenderung negatif): mereka bekerja dengan angka ajaib seperti bilangan hex, zombie processes dan mantra mantra mistik seperti tar -xzvf plugh.tgz dan sudo gem install --include -dependencies rails. Di dunia linux, mereka bisa berganti identitas menjadi orang lain atau root user seenaknya. Dan dalam sekelebatan jurus di keyboard (no mouse) mereka bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.

Lantas itu mengartikan apa?

Well, mari kita lihat lagi contoh kasus yang lain. Sekarang kita bicara tentang Chef (juru masak) yg sudah pakar. Begitu ahlinya mereka bekerja dengan segala adonan, bumbu masak dan beragam perlengkapan masak, tapi kemudian mereka tampak kesulitan untuk memberi arahan yang presisi terkait bagaimana masakan tertentu tepatnya dibuat. Apa yang mereka katakan adalah seperti ini, “Pokoknya kamu ambil bumbu ini sejumput, trus yang itu sedikit aja, yang satu ini juga sedikit aja -jangan terlalu banyak- lalu masak sampai matang.”

Bukannya macak (pura-pura) bodoh: mereka tahu betul apa maksud dari “masak sampai matang”. Mereka tahu beda tipis antara “cukupan saja” dan “kebanyakan” bergantung pada humiditas, di mana dagingnya dibeli, dan seberapa segar sayurannya.

It’s hard to articulate expertise | adalah tak mudah untuk menjlentrehkan aksi para pakar


Gambar Amateur/Novice Vampire by `JohnSu

Seringkali para pakar merasa kesulitan untuk menjlentrehkan apa-apa yang mereka lakukan sampai pada tataran sangat detail; aksi mereka telah sebegitu baiknya terlatih sehingga sudah menjadi aksi tak sadar. Pengalaman mereka yang sedemikian luas akhirnya terkristalkan dalam bentuk nonverbal dan area preconscious (bagian pikiran yang terletak di antara pikiran sadar dan tak sadar) dari otak. Ini lah yang membuat jadi susah bagi kita untuk mengamatinya dan susah juga bagi mereka untuk mengartikulasikannya.

Ketika para pakar melakukan kerja mereka, bagi kita yang awam, itu tampak seperti sebuah sulap atau sihir. Kita memandang mereka seperti melakukan gerakan-gerakan ajaib, kata-kata mistis dan lantas dari mereka tampak keluar gagasan-gagasan yang entah datangnya dari mana.

Tentu saja itu bukanlah sulap atau sihir. Namun dari bagaimana cara para pakar mempersepsikan dunia, bagaimana mereka memecahkan masalah, model pemikiran yang mereka punya dan seterusnya, itu semua sungguh berbeda dibanding para amatir.

Mari kita bandingkan saja dengan bagaimana sang amatir memasak. Setelah seharian bekerja di kantor dan telah sampai di rumah, dia tidak akan terpikir dan juga tertarik untuk memikirkan bahkan tingkat humiditas ruangan tempat dia masak atau sekedar tentang jenis kentang yang dia sedang masak. Apa yang dipikirkan adalah seberapa banyak bumbu yang dia masukkan ke dalam resep dan juga berapa banyak jamur berharga mahal yang dia masukan ke dalam adonan.

Para amatir ingin mengetahui secara tepat berapa lama waktu yang digunakan untuk merebus daging atau untuk memasaknya di oven sebanding dengan berat dagingnya itu. Bukan lantas si amatir begitu ribetnya pada aturan formal dan detail, dan juga bukan karena dia bodoh; cuma saja sang amatir memang butuh kejelasan serta aturan yang mengarahkan pada bagaimana supaya suatu hal tertentu bisa dilakukan.

Sang amatir dan pakar memang berbeda secara fundamental. Mereka melihat dunia secara berbeda, dan mereka bersikap dengan cara yg berbeda. Kita akan melihatnya secara lebih detail pada post esok hari.

banner ad

2 Responses to “Beda antara Amatir dan Pakar yang Sesungguhnya”

  1. ajeng says:

    lagi-lagi…. bikin penasaran….

  2. budiono says:

    nice post, nunggu lanjutannya 😉

Leave a Reply to ajeng Cancel reply