Apakah Pakaian Seksi Pengundang Pelecehan Seksual

Baju perempuan

Cara berpakaian pantas sbgmn perintah agama sebenarnya TIDAK BUTUH pembenaran riset supaya manusia bersedia menjalankannya. Tuhan perintahkan, ya kita laksanakan; sesederhana itu 🙂

Lantas bagaimana bila ada yg menemukan hikmah betapa berpakaian sesuai tuntunan agama itu menghindari pelecehan seksual?

Kata riset begini: maksud berpakaian sopan-pantas dan scr-layak-menutup-aurat BUKAN untuk (atau tidak lantas mampu) mencegah perkosaan TERHADAP YANG BERSANGKUTAN.

Read on.

Sexual harasement is about power (seluruh di paragraf ini didasarkan atas [1]). Cara berpakaian si korban BUKANLAH faktor signifikan. Pemerkosa mencari tanda-tanda PASSIVENESS, VULNERABILITY, dan SUBMISSIVENESS (keduanya sama2 berarti sikap penyerahan diri dan ketidakberdayaan). Mereka yg berpakaian seksi justru menunjukkan bahwa ybs adalah orang yg asertif dan sangat percaya diri sehingga dianggap susah untuk ‘ditaklukkan’. Tapi dalam kasus di mana komentar thd cara berpakaian si seksi diladeni, maka perkosaan bisa terjadi. Maka entah perempuan berpakaian sangat terbuka atau sangat tertutup, asalkan dia tampak membiarkan ketika dijawil-jawil dan secara umum bersikap pasrah apalagi mengundang, dia adl target empuk pelecehan seksual hingga perkosaan. Sehingga ini lebih pada sikap dan ketangguhan (yg dipersepsikan) dari perempuan dan pastinya faktor agresivitas dari sang lelaki; dalam bahasa peneliti = it’s a continuum of “male-aggressive/female-passive” interractions.

Lantas apa berpakaian pantas tidak berguna?

Biasanya kasus perkosaan tidak terjadi secara spontan semacam “Eh, itu kebetulan ada cewek pake baju seksi, aku ‘serbu’ ah.” melainkan biasanya didahului oleh aktivitas berfantasi [1]. Dari mana pemicu fantasi itu? Ya bisa dari internet, televisi, majalah porno, dan… orang-orang di sekitaran yg berpakaian seksi terbuka.

Ini artinya skenario berikut bisa terjadi: ada perempuan yg berpakaian seksi dan membuat cowok berfantasi tapi sikapnya begitu tegas. Laki-laki yg sedang “syahwat” bukan akan menyerang dia, melainkan siapapun PEREMPUAN LAIN —terlepas cara berpakaiannya— yg vulnerable dan submissive.

[1] Beiner, Theresa (2007) Sexy Dressing Revisited: Does Target Dress Play a Part in Sexual Harassment Cases?, dari Duke Journal of Gender Law & Policy, Vol 14:125.

banner ad

Leave a Reply