4 Tabiat Dunia Kerja yg Anda Harus Tahu

Berikut ini adalah beberapa tabiat dunia kerja yg Anda harus tahu agar bisa menyiasatinya, khususnya bagi Anda2 yg baru mau terjun di dunia kerja. Beberapa darinya mungkin Anda ndak suka, atau bahkan tidak bersepakat dengannya. Apapun deh, nyatanya semua yang disampaikan di sini benar2 terjadi di dunia kerja.

1. Anda Pasti Akan Dibayar Seminimal Mungkin

Perlu teknik negosiasi gaji yg mantap untuk mendapatkan gaji yg diinginkan, karena dengan jabatan yg sama, gaji bisa beda jauh. Buat yg sudah kerja, ini tentu sudah jadi pengetahuan umum. Tapi bagi yg belum pernah bekerja, mereka pikir bukannya gaji di perusahaan udah ada standarnya. Mereka pada bertanya, “Kenapa kok bisa gitu?”

Pertama, perusahaan pikir masih ada banyak orang yg bersedia menggantikan posisi Anda jika memang Anda keberatan dengannya. Lalu bila Anda protes tentangnya, bisa2 harus ucap selamat tinggal pada promosi. Yg jelas secara mendasar biaya karyawan masuk di prosentase terbesar dari total biaya perusahaan. Komponen biaya ini biasanya dimonitor dalam berbagai pelaporan dan budgeting. Ini adl salah kunci penentu performa perusahaan. Semakin kecil biaya

Jadi gimana dong?
Jika Anda memang lebih butuh jaminan aman -kerja yg ‘mapan’- ketimbang gaji yg gede, ya silahkan menahan diri -ndak usah buru2 protes- dan baru ajukan permohonan Anda untuk naik gaji pada saat review tahunan.

Secara umum, Anda memang perlu membangun CV yg benar-benar berkilau dan berani proaktif. Proaktif dalam artian Anda perlu mengajukan diri untuk tangani project, ambil tanggung jawab lebih, keluarkan saran2 bermutu, sambil kadang2 menelan harga diri dan bersikap kompromis terhadap sikap/keputusan atasan.

2. Anda “Ndak Kan Bisa” Ndapetin Banyak Uang Slama Masih Kerja Buat Orang Lain

Ada berapa banyak sih jumlah manajer senior di tempat kerja Anda? Dan bagaimana juga di tempat lain? Rasionya paling2 berkisar antara 40:1 sampe 200:1. Seperti yg dikatakan oleh sangTuti, cuman sedikit saja karyawan yg bisa dapet 80 juta-an per bulan. Jadi bila Anda bisa dapatkan pendidikan, latar belakang, kemampuan, koneksi dan barangkali “keberuntungan” yg sama seperti mereka, itu lah yang akan mempertinggi peluang Anda untuk bisa dapatkan uang sebesar yg mereka dapat. Tapi bila Anda ndak punya salah satu apalagi beberapa darinya, peluang Anda pun jadi menurun tajam.

Jadi sekarang silahkan bertanya pada diri sendiri, mau nunggu sampai kapan sampe bisa ndapetin gaji seperti atasan2 Anda? Begitu sudah waktunya Anda dapet uang yang sama seperti mereka, jangan2 sudah keburu mau pensiun. Padahal Anda kan mau uangnya sekarang – pengen beli rumah, nyekolahkan anak, dst dst.

Jadi, apa yg bisa dilakukan?
Anda bisa terus bertahan dan “menunggu” hingga Anda dapatkan promosi demi promosi.

Atau Anda bisa masuk ke sektor usaha yg prospektif mendatangkan banyak uang seperti informatika atau finance. Masing2nya membutuhkan spesialisasi dan upaya investasi -waktu, biaya- belajar yg lumayan. Dan harus dipastikan dulu bahwa Anda bisa benar2 menikmatinya.

Atau Anda bisa seriusi hobi Anda untuk temukan cara2 yg bisa beri kemanfaatan bagi orang lain dan jadi ahli di sana. Buka mata dan telinga lebar2, ngobrol2 dg teman, cari2 sapa yg kira2 bisa diajak bisnis bareng. Inget2 apa sih yg bisa dipelajari dari atasan yg bisa diterapkan di luar? Ada ngga kerjaan di perusahaan yg bisa Anda lakukan secara lebih baik dan murah? Ada ngga gagasan luar biasa yg tidak diloloskan oleh pihak manajemen? Akumulasikan apa2 yg Anda tahu, sapa tahu itu bakal berguna.

3. Bukan Tentang Apa, Namun Siapa

Bukanlah tentang apa2 yg Anda tahu, melainkan siapa2 saja yg Anda kenal dan lantas siapa2 saja yg kenal dg Anda. Ketika Anda sudah bisa meningkatkan performa dalam hal kualitas, kuantitas dari aspek pekerjaan, maka Anda harus membuat orang yg tepat mengetahui tentangnya. Orang yg tepat? Iya, orang2 yg punya kuasa untuk mempromosikan Anda dan yg mana omongannya begitu diperhatikan.

who vs what :mrgreen:

4. Perhatikan dg Siapa Anda Diasosiasikan

Anda nggak harus berkumpul dg orang2 yg ndak cocok dg nilai2 Anda. Di tempat Anda kerja, amat bisa jadi ada orang2 yang sukanya mengeluh, menggerutu, menggosip, gosip fitnah, hingga yang sukanya ngutil barang2 kantor sampai korupsi. Mereka akan cari2 kesempatan untuk menyalurkan hasrat mereka.

Kecuali Anda memang berniat mengentas mereka dan punya kekuatan pengaruh yg kuat, maka sebaiknya Anda tidak masuk pada lingkar pertemanan mereka. Bahkan jangan sampai terlihat akrab dengan orang2 semacam itu. Atasan Anda pastinya tau siapa2 saja orang yg sukanya gosip, berbohong dan males2an klo dikasih kerjaan. Jika Anda berteman dg orang2 semacam itu, maka yg terjadi adalah guilty by association, Anda akan ikut kena getah tanpa perlu menjadi sumber getah.

[tags]manajemen karir, karir, dunia kerja[/tags]

banner ad

20 Responses to “4 Tabiat Dunia Kerja yg Anda Harus Tahu”

  1. ghosty1st says:

    asslkm mas. wah postingannya keren banget. asyik. thanks atas informasinya.oya mas. kalo boleh tahu nih, dapetin gambar-2 nya tuh dimana? kok rasanya cocok banget deh. kasih ilmunya dong. thankyu.

  2. ulan says:

    wah dapet ilmu.. tengkyu kang..

  3. madzz says:

    blog nya bagus sekaliiiii

    madzzs last blog post..Japan trade surplus down nearly 89 percent

  4. aRuL says:

    akhirnya kayak begini ini, orang2 tidak betah bekerja di bawah orang.kalo kayak gini berarti kita harus lebih mendukung untuk memiliki usaha sendiri mas yah 🙂

    aRuLs last blog post..TPC Nandur Mangrove

  5. l5155st™ says:

    Bagus pak, semoga bermanfaat bagi kami di sini…Salam kenal dari Didit Fitriawan

  6. edratna says:

    Sebetulnya yang utama adalah kembali pada diri sendiri….apa sih sebetulnya tujuan kita bekerja? Mendapat gaji yang layak dengan suasana menyenangkan, atau mengejar karir dan gaji tinggi?Ada orang yang menyenangi kestabilan, makanya walau gaji PNS rendah, masih berjubel orang yang mendaftar. Saya pernah memposting, bagaimana cara kita memasarkan diri sendiri, yang saya ambil dari bukunya Hermawan, yang juga relevan untuk pekerjaan sehari-hari….

    edratnas last blog post..“Award”

  7. bison says:

    sharing pengalaman aja. waktu aku ditanya minta gaji brp? aku langsung jawab nominal terbesar. sdh dpt diduga mereka akan tanya apa kemampuannu minta gaji sekian? aku jwb aku td disuruh minta, sekarang minta katanya kok kebesaran, nti kalo terserah nti diberi sedikit. sebenarnya perusahaan tanya gaji sbg tes apakah kita berani atau tdk. itu pertanyaan psikologis krn semua perusahaan punya standar gaji brp hrs bayar orang seperti kita ini. kita hrs menyaring pertanyaan pewawancara itu psikologis ataukah yg lain. hal tsb utk menilai sejauh apa pribadi kita.

  8. heru ss says:

    dari sisi lain. trend skr pd perlakuan human capital di perusahaan mapan,  perusahaan minimal punya dua pertimbangan utama dlm urusan gaji.:1.  gaji tsb mampu  membuat karyawan berproduktivitas optimum sesuai kompetensi yg diperlukan2. Gaji tsb mampu menahan karyawan yg baik untuk tdk keluar  dari perusahaan. 

    heru sss last blog post..Dahsyatnya Energi Taqwa

  9. saldotman says:

    assalamu’alaikum mas guntar,gimana kabar? baik2 aja? alhamdulillah..mas, kapan hari itu, di milis informatika-its, disebutkan, bahwa yg orang yg paling dicari oleh CIO adalah yg paling jago komunikasi.kira2 mas guntar punya resep supaya kita jago berkomunikasi?ditunggu tulisannya yaa…sekalian,sama mau nanya.ngg.. gini,saya itu, kalo pas lagi jalan, di trotoar, di jembatan penyebrangan, or naek angkutan umum, ngeliat banyak resource yg kyknya belum termanfaatkan secara optimal (tau kan yg saya maksud?). kira2 gimana ya caranya supaya mereka2 itu bisa lebih dioptimalkan :)gitu mas.matur nuwun.salam,

  10. aRul:
    Sebenarnya tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Intinya kan berkiprah dalam lingkup dan gaya produktivitas yang paling pas dengan yang bersangkutan. Jika memang bekerja buat orang lain mbikin diri nyaman dan kebutuhan (dalam aspek luas) tercukupi, maka ya ngga papa 😛

    edratna:
    Betul, saya sepakat. Tiap orang memang berbeda.

    bison:
    Memang amat penting bagi kita untuk bisa memberi harga yang layak untuk diri sendiri. Pewawancara kerja juga mempertimbangkan faktor ini dalam pertimbangan mereka. Klo kita saja ndak percaya diri dengan harga kompetensi kita, bagaimana orang lain bisa memberi nilai tinggi untuknya.

    saldotman:
    Untuk yang komunikasi, insya Allah ntar saya bikin posting khusus tentangnya 🙂 Untuk yang issue kedua, saya tanggapi di posting tentang Uang, Teknologi, dan Kekuasaan untuk Perangi Kemiskinan aja ya 🙂

  11. Jauhari says:

    Jadi pingin bikin Perusahaan sendiri kang 🙂

  12. Awan Dwi Darmawan says:

    Wah, manteb!! Iya bener mas.. Dibayar seminimal mungkin diikat semaksimal mungkin!! Hehehe….

  13. A. Maya S. says:

    pngn pny prshn ndiri yg bs utk masa depan. tp emng ssh sih klo ngga pny tekad kuat and dikit nekad. tdk ktnggln PD ama kmmpn. msk akan sllu jd pgwai trs ato anak buah si Bosss. tul nggaaaaaa

  14. Nuning says:

    Hiks, masalah2 yg mbulet aja dr dulu:
    1. Terlalu nyaman dgn rutinitas gaji monthly
    2. Takut mulai wiraswasta karena resiko income bs less than gaji bulanan
    Padahal pengen bgt resign, biar bs nyayang anak 24 jam. hiks huks

  15. mirna says:

    kang jadi takut dech masuk lapangan kerja yang punya boss!!!
    mendinagan wirausaha j dech,!!1
    susah/senang akibat sendiri, g”da yang mau peduli..he..he..

  16. rendezz says:

    Makasih Atas Beberapa Artikel Seputar Wawancara Kerja. Itu Sangat Membantu Bagi Kita Yang Baru Melamar kerja. Semoga Amal Kebaikan Saudara Mendapat Pahala Berkah.
    Nuwun

  17. wawang says:

    Wah…ketemu lagi di dunia maya nich pak…

    Saya sangat kagum dengan kepribadian bapak…

    Salam dari saya mahasiswa Univ.Kanjuruhan yang dulu pernah ikut pelatihan soft skill yang bapak laksanakan di Tumpang malang.

  18. Juhardi says:

    Pass dengan saya mas. jempol juga buat Mas. Knapa dari 100 Orang indonesia yang punya pendidikan tinggi, mnurut saya cman 10 yang perfikir untuk mempekerjakan orang dan slebihnya itu brfikir untuk dipekerjakan, sehingga makin tahun maka akan makin buanyak pengangguran yang tercipta. tp mas, sy juga adalah org2 yang slalu berfikir untuk ke dunia usaha tp lgi, gak poenya Muodl! trusssss solusinya gmana Mas? sya tunggu Replynya di e-mail saya.

  19. minni says:

    Assalammualaikum
    salam kenal pak…saya bermasalah dengan tempat dimana sekarang saya bekerja…Alhamdulillah sudah 2minggu ini saya menggunakan kerudung tapi dari manajemen kantor saya tidak memperbolehkan saya menggunakan kerudung, saya sedih…dan dilemma bagaimana solusinya ? thanK’s

Trackbacks/Pingbacks

  1. Serial Kiat Naik Gaji: Minta Kenaikan Gaji Aja Lho Kok Susah Banget | AkhmadGuntar dot com - [...] lebih, itu artinya profit yang diterima perusahaan jadi lebih kecil. Gimana gimana, yang namanya tabiat bisnis atau dunia kerja…

Leave a Reply to Akhmad Guntar Cancel reply